PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID-Budayawan Pandeglang menggelar pertunjukan drama musikal bertempat Gor Cikupa, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Drama musikal berjudul Di Ujung Pena, Di Ujung Darah, Dari Tinta Perjanjian Menuju Bara Perlawanan karya dan sutradara Parwa Rahayu.
Pertunjukan drama musikal ini mengangkat kisah dari manuskrip Babad Banten melalui pendekatan seni pertunjukan kontemporer yang memadukan drama, opera, tari, nyanyian, dan visual mapping.
Budayawan Pandeglang, Tirta Nugraha Pratama, mengatakan pertunjukan konsep kontemporer ini sengaja dipilih untuk menghadirkan cara baru dalam memperkenalkan warisan budaya Banten kepada masyarakat.
“Khususnya kepada generasi muda. Karena selama ini manuskrip Babad Banten lebih banyak dikenalkan melalui wayang atau teater konvensional, ali ini kami mencoba media lain yang lebih kreatif dan inovatif dengan menggabungkan opera, visual mapping, tarian, dan nyanyian,” katanya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Tirta berharap, dengan pendekatan itu, mampu menjangkau penonton lintas usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tidak hanya memahami alur cerita yang disajikan, tapi juga tertarik untuk mengenal lebih jauh sejarah dan budaya Banten.
“Harapannya setelah memahami isi cerita, mereka tertarik untuk mempelajari manuskrip dan sejarah Banten lebih dalam. Serta memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat, komunitas seni, budayawan, hingga peneliti,” katanyam
Tirta mengungkapkan, drama musikal mengangkat tema perlawanan rakyat Banten kepada kekuasaan yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Kisahnya berangkat dari konflik internal Kesultanan Banten yang kemudian dimanfaatkan VOC untuk memperluas pengaruhnya. Dalam narasi pertunjukan, kerja sama antara Sultan Haji dan VOC menggambarkan berdampak pada kehidupan rakyat.
“Tema ini adalah bagaimana rakyat Banten menghadapi kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka. Ketika penguasa terpengaruh oleh kepentingan VOC, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Dalam cerita mengandung kisah masih relevan dengan kondisi masa kini. Utamanya berkaitan hubungan antara kebijakan penguasa dan kesejahteraan rakyat.
“Pertunjukan ini tidak hanya mengandalkan manuskrip Babad Banten yang ditulis menggunakan aksara Pegon. Tim produksi juga melibatkan penerjemah serta peneliti untuk mengkaji berbagai sumber sejarah, catatan perjalanan dan dokumentasi harian milik VOC,” katanya.
Tirta menegaskan, pihaknya turut melibatkan penerjemah karena manuskrip ini menggunakan aksara Pegon. Selain itu ada tim riset yang mengumpulkan dan mencocokkan data dari manuskrip dengan berbagai catatan sejarah pada masa itu.
“Penggabungan antara manuskrip dan sumber sejarah lainnya dilakukan agar pertunjukan memiliki landasan yang kuat sekaligus tetap menarik sebagai karya seni. Melalui pementasan ini dapat menjadi salah satu upaya melawan menurunnya minat generasi muda pada sejarah dan budaya lokal,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











