LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Musim kemarau tidak hanya berpotensi menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko kasus gigitan ular berbisa. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama saat para petani mulai membuka lahan atau ladang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat sebanyak 281 kasus gigitan ular terjadi sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia.
Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah meminta Dinkes memastikan ketersediaan serum antibisa ular di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
“Dinas Kesehatan (Dinkes) harus terus memastikan ketersediaan stok serum antibisa ular di puskesmas maupun rumah sakit agar penanganan pasien gigitan ular dapat dilakukan dengan cepat dan optimal,” kata Amir Hamzah, Jumat, 3 Juli 2026.
Ia menegaskan Dinkes perlu melakukan pemantauan stok secara berkala agar tidak terjadi kekosongan obat di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Dengan ketersediaan serum antibisa ular yang memadai, pasien yang menjadi korban gigitan ular berbisa dapat segera memperoleh penanganan medis sehingga risiko komplikasi hingga kematian dapat ditekan,” katanya.
Selain itu, Amir mengimbau masyarakat, khususnya petani dan warga yang beraktivitas di kebun maupun hutan, agar meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan alat pelindung diri, seperti sepatu bot dan senter, saat beraktivitas di lokasi yang berpotensi menjadi habitat ular.
“Tentunya, saya berharap langkah antisipasi tersebut, disertai kesiapan fasilitas kesehatan, dapat meminimalkan dampak kasus gigitan ular di Kabupaten Lebak selama musim kemarau,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Lebak, Eka Daramana Putra, mengatakan pihaknya telah memastikan ketersediaan obat antibisa ular (ABU) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Lebak dalam kondisi mencukupi.
“Memasuki musim kemarau, kami mengimbau masyarakat, khususnya petani yang membuka lahan pertanian, agar lebih waspada terhadap potensi gigitan ular berbisa. Ketersediaan obat tersebut sangat penting mengingat kasus gigitan ular masih terjadi dan berpotensi meningkat saat musim kemarau, ketika aktivitas masyarakat di lahan pertanian semakin tinggi,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











