SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Provinsi Banten mencatatkan kinerja positif dalam realisasi investasi pada Triwulan II 2026. Nilai investasi yang masuk sepanjang April hingga Juni 2026 mencapai Rp31,9 triliun, menempatkan Banten di peringkat keenam nasional untuk realisasi investasi gabungan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Realisasi tersebut tumbuh 7,41 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Triwulan II 2025 yang mencapai Rp29,7 triliun.
Secara kumulatif, investasi Banten sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp66,3 triliun. Angka tersebut meningkat 9,23 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp60,7 triliun.
Capaian Semester I 2026 itu telah mencapai 46,63 persen dari target investasi Banten sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp142,19 triliun.
Kepala DPMPTSP Provinsi Banten, Virgojanti, mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak dalam menjaga iklim investasi di Banten.
“Capaian ini tentu tidak terlepas dari sinergi semua pihak,” kata Virgojanti dalam rapat koordinasi bersama kepala DPMPTSP kabupaten dan kota, Bank Indonesia, serta BPS Banten di Kantor DPMPTSP Banten, Kota Serang, Selasa, 28 Juli 2026.
Dari total realisasi investasi Triwulan II 2026, PMDN masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp18,87 triliun atau sekitar 59 persen. Sementara itu, investasi PMA mencapai Rp13,02 triliun.
Secara kinerja, PMA justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Investasi asing meningkat 35,63 persen secara year on year (YoY) dan tumbuh 18,04 persen dibandingkan Triwulan I 2026.
Sementara itu, realisasi PMDN mengalami penurunan 5,97 persen secara year on year (YoY) dan turun 18,88 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Virgojanti mengatakan kondisi geopolitik global turut menjadi tantangan bagi sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di Banten. Gangguan rantai pasok akibat konflik internasional dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi perusahaan yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
“Kondisinya walaupun secara geopolitik internasional sedang terganggu, ada beberapa perusahaan asing yang bahan bakunya bergantung pada kondisi perang di Selat Hormuz, misalnya. Namun, untuk PMDN yang bahan bakunya masih berasal dari dalam negeri, tidak ada masalah,” jelasnya.
Berdasarkan negara asal investor, Jepang menjadi penyumbang PMA terbesar dengan nilai Rp2,96 triliun atau 22,75 persen. Berikutnya Singapura sebesar Rp2,59 triliun atau 19,89 persen, dan Tiongkok Rp2,39 triliun atau 18,34 persen.
Seychelles berada di posisi keempat dengan investasi Rp1,08 triliun atau 8,31 persen, disusul Malaysia sebesar Rp0,80 triliun atau 6,18 persen.
Secara nasional, Banten berada di peringkat keenam untuk realisasi PMA dengan nilai sekitar Rp13 triliun dan menempati peringkat keempat nasional untuk realisasi PMDN dengan nilai sekitar Rp18,9 triliun.
Realisasi investasi Triwulan II 2026 juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Sebanyak 57.522 tenaga kerja terserap dari 39.477 proyek yang berjalan, terdiri atas 56.583 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 939 tenaga kerja asing (TKA).
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Banten masih memiliki ruang untuk mengejar target investasi sebesar Rp142,19 triliun hingga akhir 2026, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.*
Editor : Krisna Widi Aria











