KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 879 anak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terdeteksi mengalami stunting berdasarkan hasil pengukuran pada Agustus 2026.Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel kini melakukan penelusuran terhadap setiap kasus untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kondisi anak hingga tingkat keluarga.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, data hasil pengukuran telah disusun secara by name by address dan disampaikan kepada kecamatan serta kelurahan untuk ditindaklanjuti.
“Data yang sudah kami peroleh akan menjadi dasar bagi wilayah untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak dan keluarganya,” kata Pilar saat menghadiri publikasi stunting di Aula Blandongan, Rabu 16 September 2026.
Menurut Pilar, penanganan stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan. Faktor lingkungan, sanitasi, kondisi rumah, sosial, hingga kemampuan ekonomi keluarga juga dapat berkaitan dengan kondisi tumbuh kembang anak.Karena itu, penanganan dilakukan secara lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Intervensi dapat disesuaikan dengan persoalan yang ditemukan di masing-masing keluarga.
“Ketika persoalannya sanitasi, maka intervensinya berbeda dengan keluarga yang menghadapi masalah ekonomi atau kesehatan orang tua. Karena itu, penanganannya harus melihat akar masalahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel Lilis Suryani mengatakan, prevalensi stunting di Tangsel pada 2026 tercatat sebesar 0,75 persen.Berdasarkan hasil pengukuran, terdapat sejumlah wilayah yang mengalami peningkatan prevalensi, yakni Kecamatan Setu, Serpong, dan Serpong Utara. Sementara kecamatan lainnya tercatat mengalami penurunan.
“Jumlah kasus dan angka prevalensi merupakan dua hal yang berbeda. Untuk melihat wilayah yang perlu mendapat perhatian, kami menggunakan perhitungan prevalensi berdasarkan jumlah sasaran yang diukur di masing-masing wilayah,” jelas Lilis.
Kecamatan Setu tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi, yakni 1,57 persen dengan 119 anak. Sementara Kecamatan Serpong tercatat memiliki 117 anak, sedangkan Ciputat Timur mencapai 163 anak.
Lilis menegaskan, data tersebut menjadi dasar dalam menentukan intervensi di setiap wilayah. Penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan faktor penyebab yang ditemukan pada masing-masing anak dan keluarganya.
Editor: Abdul Rozak












