Islam didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad saw, yang terjaga dan tidak diragukan lagi integritas moral dan kejujuran di lingkungan masyarakat. Secara khusus setelah memasuki usia 40 tahun Muhammad saw diutus menjadi rosul dengan misi utama memperbaiki moral masyarakat agar berahlak mulia dalam tata pergaulan kehidupan keluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Di atas fondasi nilai kejujuran dan ahlak mulia inilah Islam bisa menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia dalam waktu yang relatif singkat sebagai agama penebar rahmat bagi sekalian alam.
Saat ini memasuki era kehidupan modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi berbagai bidang. Mulai terjadi gempuran budaya materialisme dan hedonism, pengaruh perkembangan teknologi informasi yang memproduksi isu, informasi baik yang faktual maupun hoax yang terkadang berbenturan dengan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Persaingan kehidupan antar manusia antar bangsa semakin ketat menyebabkan antar manusia, antar bangsa mulai melupakan nilai-nilai ajaran Islam dan kemanusiaan. Semangat dan ruh kejujuran semakin hari semakin langka.
Manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa yaitu penyakit korup dan ketidakjujuran. Sinyalemen ini pernah dikhawatirkan Nabi Muhammad saw yang pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim). Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’:16).
Ayat dan hadis ini mengingatkan kita, bahwa potensi kehancuran suatu masyarakat dan bangsa dipicu oleh sikap dan perilaku para penguasa, tokoh masyarakat dan diikuti anggota masyarakat kebanyakan, yang mengacuhkan nilai nilai ajaran agama dan menyombongkan kemewahan dunia. Mereka mengabaikan nilai kejujuran dan ahlak mulia serta memuja hedonism (kesenangan dan kemewahan dunia yang menyilaukan mata hati). Sehingga menjadi budaya yang dianggap biasa dalam kehidupan keseharian.
Hal inilah yang menjadi potensi utama runtuhnya peradaban suatu masyarakat dan bangsa, yaitu hancurnya nilai-nilai keimanan dan kejujuran serta kehancuran moral ahlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ibadah puasa ramadhan, melatih dan mengarahkan kembali hati manusia agar senantiasa menjaga amanah dan nilai-nilai (kejujuran) dalam berbagai sendi kehidupan. Puasa ramadhan mendidik kita untuk senantiasa menghadirkan Tuhan dalam bersikap dan bertindak melaksanakan aktivitas kehidupan, mengarahkan upaya perbaikan diri sebagai insan bertakwa dan berahlak mulia. Semoga ibadah puasa tahun ini dapat meningkatkan integritas moral dan kejujuran, dalam rangka menyemai peradaban berbasis nilai-nilai keislaman, kejujuran dan ahlak mulia, guna menghadapi kompleksitas tantangan masa depan kehidupan dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. (*)











