CILEGON – Sejumlah lingkungan di Kota Cilegon menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau. Wilayah kering tersebut tersebar di Kecamatan Pulomerak, Grogol, dan Ciwandan. Pemkot Cilegon pun bersiaga dengan membangun sembilan sumur dalam.
Sumur yang akan digali oleh Pemkot Cilegon tahun ini tersebut berkisar sedalam 100 hingga 150 meter. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Cilegon memperkirakan pembangunan kesembilan sumur dalam tersebut akan menelan anggaran sebesar Rp1,8 miliar. Biaya yang akan digunakan untuk membangun sumur-sumur tersebut bersumber dari APBD 2019 dan dana insentif daerah (DID) yang bersumber dari pemerintah pusat.
Kepala Dinas Perkim Kota Cilegon Aziz Setia Ade Putra menjelaskan, anggaran yang bersumber dari APBD sekira Rp1 miliar, sisanya sebanyak Rp800 juta bersumber dari DID. Adapun sumur yang berasal dari APBD akan dibangun di lima lokasi.
Kelima lokasi itu antara lain di Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak; Kelurahan Randakari di Kecamatan Ciwandan; Kelurahan Cikerai di Kecamatan Cibeber; dan Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol. “Dari keempat kelurahan itu, dua sumur akan dibangun di Kelurahan Gerem, tepatnya di Lingkungan Cikuasa Wetan dan Sumur Wuluh,” katanya kepada Radar Banten, Senin (15/7).
Sementara itu, untuk yang bersumber dari APBD sekarang sedang proses kontrak. “Penyedia jasanya sudah siap, dalam waktu dekat pembangunannya diperkirakan sudah bisa dimulai,” ujar Aziz.
Sedangkan sumur yang dibangun menggunakan anggaran dari DID semuanya dibangun di Kecamatan Pulomerak. Antara lain di Kelurahan Mekarsari, Tamansari, Suralaya, dan Lebakgede. “Untuk proyek yang bersumber dari anggaran DID saat ini dalam proses penunjukan penyedia jasa,” ungkapnya.
Selain membangun sumur, rencananya, Pemkot Cilegon pun, menurut Azis, akan membangun reservoir. Hal itu agar layanan air bersih bisa menjangkau daerah dataran tinggi yang kerap mengalami kekeringan seperti Pasirsalam, Watulawang, Ciporong, dan Kedurung. Namun, program itu, menurutnya, masuk dalam jangka panjang.
“Air dari bawah, kita sambungkan dengan sistem pompa, nanti setiap jarak tertentu dibuatkan rumah pompa, ada beberapa titik supaya air bisa naik ke atas,” paparnya.
Terpisah, Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan, persoalan kekeringan tidak hanya sedang dihadapi oleh Kota Cilegon, tapi juga daerah-daerah lain di Indonesia. Menurutnya, sejumlah langkah telah dilakukan oleh pemerintah untuk meringankan beban masyarakat, salah satunya dengan pendistribusian air bersih.
Kata Edi, untuk jangka panjang, ia pun telah membentuk tim penanganan bencana kekeringan yang terdiri dari sejumlah stakeholder seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Dinas Perkim, dan PDAM Cilegon Mandiri.
“Saya sudah minta Bu Asda (Beatri Noviana) untuk membahasnya,” tuturnya.
Di sisi lain, anggota Komisi II DPRD Kota Cilegon M Yusuf Amin meminta Pemkot Cilegon membuat program jangka panjang agar warga yang bermukim di dataran tinggi bisa mengakses air bersih. “Cilegon ini kan punya anggaran cukup banyak. Seharusnya mampu dong mengatasi warga yang kesulitan air bersih setiap tahunnya. Jangan sampai ini jadi persoalan terus,” kata dia. (Bayu M/RBG)











