CILEGON – Tepung terigu serta sejumlah produk olahan lain dari gandum dan jagung asal Kota Cilegon diekspor ke Filipina. Nilai ekspor produk-produk turunan hasil pertanian tersebut mencapai Rp3,7 miliar.
Proses ekspor dilakukan kemarin, Rabu (9/10) di PT Golden Grain Mills, Kecamatan Ciwandan. Pelepasan produk tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus Tauchid, dan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Banten Babar Suharso.
Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil menuturkan, secara bersamaan, ada tiga perusahaan di Kota Cilegon yang melakukan ekspor ke Filipina. Ketiganya yaitu PT Golden Grain Mills, PT Bungasari Flour Mills, dan PT Tereos FKS Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan, PT Golden Grain Mills mengekspor tepung terigu sebanyak 45,515 metrik ton dengan nilai ekspor mencapai Rp228 juta, PT Bungasari Flour Mills mengekspor dedak gandum sebanyak 408 metrik ton ke Filipina dengan nilai ekspor mencapai Rp1,322 miliar, dan PT Tereos FKS Indonesia yang mengekspor pati jagung sebanyak 462,5 metrik ton ke Filipina dengan nilai ekspor mencapai Rp2,227 miliar. “Kegiatan ekspor ini menunjukkan tren positif aktivitas ekspor produk pertanian,” ujar Ali kepada wartawan usai melepas deretan kontainer pembawa produk ekspor.
Ia melanjutkan, kegiatan ekspor produk pertanian dari daerah wilayah kerja Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi varian komoditas, pada tahun 2018 sebanyak 15 jenis sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 23 jenis. Dengan begitu, ada tambahan delapan varian komoditas ekspor baru yaitu akar pasak bumi, daun sirsak kering, kelor, gandum pellet, herbarium, gandum olahan, rumput laut dan tepung terigu.
Kemudian, dari jumlah eksportir, pada tahun 2018 terdapat sebanyak 12 eksportir sedangkan pada tahun 2019 bertambah menjadi 16 eksportir. “Negara tujuan pun bertambah, pada tahun 2018 sebanyak 25 negara sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 31 negara, sehingga ada tambahan enam negara tujuan ekspor baru yaitu Jepang, Afrika Selatan, Tonga, Irak, East Timor, dan Timur Leste,” tuturnya.
Capaian positif itu, lanjut Ali tidak membuat Badan Karantina tidak melakukan pengembangan, saat ini, menurutnya, Badan Karantina tengah mendorong pelaku ekspor untuk memperbanyak keragaman produk turunan hasil pertanian yang bisa diekspor ke luar negeri.
Sementara itu Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho menuturkan, selama tahun 2019, hingga September lalu, tiga perusahaan yang saat ini melakukan ekspor secara bersama telah merealisasikan nilai ekspor yang cukup besar.
“PT Tereos FKS Indonesia yaitu 37.913.500 metrik ton dengan nilai Rp151,517 miliar, PT Bungasari Flour Mills yaitu 7.040.612 metrik ton dengan nilai Rp29,451 miliar, dan PT Golden Grain Mills yaitu 2.624.253 metrik ton dengan nilai Rp7,953 miliar,” ujarnya.
Ia melanjutkan, untuk mendorong giat ekspor, pihaknya membuat sistem SOP Checker. Sistem tersebut merupakan perangkat pengendali pelaksanaan kegiatan perkarantinaan, baik yang bersifat administrasi maupun teknis, serta memastikan terwujudnya integritas petugas karantina hewan dan petugas karantina tumbuhan, sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan dilingkup Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon. (bam/ibm/ags)









