SERANG-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas 1 Tangerang mencatat sejak Januari sampai Desember 2021 telah terjadi 1.077 gempa bumi di Banten dan sekitarnya. Dari jumlah tersebut, hanya 15 gempa bumi yang dilaporkan terasa getarannya.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang Suwardi mengatakan, pihaknya melakukan pemantauan secara rutin mencatat aktivitas gempa bumi di Banten. “Tahun 2021, 1.077 gempa bumi, naik 28 persen dibandingkan tahun 2020,” ujar Urip, kemarin.
Sementara, lanjut Urip, pada periode Januari hingga Desember 2020 di Banten dan sekitarnya terjadi 840 gempa bumi. Dari hasil analisa menunjukkan bahwa kekuatan gempa bumi yang terjadi bervariasi dari magnitudo 1,5 hingga 6,0. Sebaran pusat gempa bumi atau episenter umumnya berada di laut, yaitu pada zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di bagian selatan Provinsi Banten hingga Jawa Barat.
Gempa bumi berdasarkan kedalamannya, tercatat 90 persen atau 965 kejadian terjadi pada kedalaman dangkal di bawah 300 kilometer. Sedangkan untuk gempa bumi berdasarkan kekuatan, magnitudo 3 hingga 5 dominan terjadi yaitu sekitar 56 persen atau 604 kejadian, kemudian gempa bumi dengan kekuatan magnitudo di bawah 3 sebesar 43 persen atau 458 kejadian, dan gempa bumi dengan magnitudo di atas 5 sebesar 1 persen atau 15 kejadian.
“Gempa bumi yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat atau disebut sebagai gempa bumi dirasakan selama Januari hingga Desember 2021 terjadi sebanyak 15 kali,” terangnya.
Berdasarkan peta aktivitas gempa bumi atau seismisitas, periode Januari-Desember 2021 tampak bahwa klaster paling aktif terjadi di Provinsi Banten adalah zona B yakni Patahan Cimandiri dan Patahan Pelabuhan Ratu. Kemudian zona A yaitu Terusan Sesar Semangko, Patahan Ujung Kulon, dan Zona Megathrust.











