SERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat ada 48.487 warga Banten terserang diare selama empat bulan. Jumlah itu tersebar di enam kabupaten/kota di Banten.
Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, salah satu penyebabnya adalah masyarakat belum menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Dari delapan kabupaten/kota yang ada di Banten, yang sudah mencapai ODF (on defekasi free) atau Stop BAB sembarangan baru dua kota yakni Kota Tangerang dan Kota Cilegon.
Sedangkan enam kabupaten/kota lainnya, ia mengaku belum mencapai ODF (on defekasi free) atau Stop BAB sembarangan. Namun, ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mendorong kabupaten/kota mencapai ODF.
“Salah satunya dengan pembuatan jamban keluarga,” ujar Ati.
Ia juga mendorong masyarakat untuk melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) dengan melakukan pemicuan/penyuluhan. Pihaknya juga mengajak dunia usaha, swasta, dan stake holder untuk penyediaan jamban keluarga.
“Kami juga koordinasi dengan PU dan Perkim dalam penyediaan jamban keluarga dan akses air bersih serta rumah sehat,” tuturnya.
Penyakit tersering yang terjadi akibat masih adanya BAB sembarangan adalah diare yang hebat karena air/makanan yang terkontaminasi tinja yang dibawa oleh binatang seperti lalat.
Kata dia, tingkat kesakitan dan kematian pada anak akibat diare masih tinggi di Indonesia. Selain itu, diare pada anak karena sanitasi lingkungan yang tidak baik merupakan salah satu faktor penyebab stunting. (*)
Reporter: Rostinah
Editor: Agung S Pambudi











