SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten menyusun strategi mencegah banjir di beberapa kota di Banten.
Penyusunan strategi ini dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah melalui BPBD di setiap kabupaten dan kota dan serta stakeholder terkait lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengatakan, penyusunan strategi dilakukan guna merangkai langkah konkret dalam mitigasi bencana banjir di beberapa titik, khususnya Kota Serang.
Nana mengatakan, mitigasi yang dianggap paling penting adalah persiapan individu dan kesadaran masyarakat. Beberapa desa telah melaksanakan program siaga bencana yang diinisiasi oleh Dinas Sosial.
Program ini untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana, termasuk banjir. Dalam program siaga bencana, diadakan pelatihan evakuasi dan penyiapan dapur umum.
“Jadi tujuannya agar kita bisa prepare mitigasi. Ketika bencana sudah terjadi, kita sudah tahu berbuat apa,” kata Nana kepada wartawan pada acara perencanaan pembentukan forum pengurangan risiko bencana di aula BPBD Banten, Selasa, 21 Agustus 2023.
Kepala Pelaksana BPBD Banten menyebut bahwa dalam penyusunan strategi ini membutuhkan masukan dari berbagai pihak, khususnya masyarakat di lokasi rawan banjir. Mitigasi banjir, kata Nana, bukan hanya tugas BPBD, namun seluruh pihak, seperti DPUPR, Perkim, BBWSC3, dan masyarakat itu sendiri.
“Kita berharap akan didukungan dan sinergi dari seluruh pihak dalam penanggulangan banjir ini,” ucapnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten Asep Mulya mengatakan, untuk wilayah yang berpotensi diterpa banjir di bantaran sungai dan muara.
“Bantaran sungai, mungkin muara ada 14 potensi-potensinya banjir dan tsunami difokuskan,” ujarnya.
“Daerah bantaran sungai rentan, tadi juga kita juga undang BBWSC3 dan hilir di Tangerang utara dan mungkin daerah pemukiman atau di daerah pantai,” sambungnya.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Banten Fitron Nurihsan mengatakan, rencana konsinyasi penting untuk disusun dan disosialisasikan agar masyarakat siap.
“Karena sifat konsinyasi bencana dibutuhkan untuk menganalisis dan persiapan sebuah bencana dengan asumsi bencana itu bisa saja terjadi bisa tidak bencana bisa jadi besar bisa jadi kecil cara pandangnya,” katanya.
“Ini penting banget, kita kadang-kadang memutuskan sesuatu bencana saat sudah terjadi itu disaat kritis ga sistematis,” sambungnya.
Menurutnya, menghindari terjadinya bencana tidak dapat. Akan tetapi dapat menghindari risiko yang diakibatkan bencana seperti korban jiwa dan materi.
“Kalau menghindari bencana kan gak bisa. Kalau menghindari risikonya, korban jiwa, korban materi, harus dilakukan dan itu sangat penting dan ini penting untuk dilakukan,” ujarnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor : Aas Arbi











