PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Rohendi, seorang seniman dari Ciwasiat Kabupaten Pandeglang, menciptakan dua lukisan topeng hitam dan putih berukuran besar.
Kedua karya lukisan tersebut memiliki makna filosofis yang dalam terkait dengan realitas kehidupan.
Rohendi mengungkapkan, kedua lukisan topeng yang ia ciptakan memiliki karakter yang berbeda.
Menurutnya, lukisan topeng berwarna hitam, atau yang mewakili topeng kelana berwarna merah, mencerminkan karakter sombong, keberanian yang kuat, dan daya tarik yang menarik perhatian banyak orang. Sedangkan lukisan topeng berwarna putih yang menggambarkan topeng Panji memiliki karakter yang bersih, polos, dan jernih.
“Kedua topeng itu, saya posisikan, filosofikan hitam dan putih, bahwa dalam kehidupan ini jangan berpikir hanya hitam dan putih karena hitam terkesan dengan negatif dan putih terkesan dengan positif,” ungkapnya, Sabtu 6 Januari 2024.
Rohendi menyampaikan, bahwa melihat perbedaan karakter dari kedua lukisan topeng ini, maka semuanya ini penting untuk menghadapinya dengan bijak.
“Dunia ini harus disikapi dengan bijak, jangan terkesan hanya bisa menyalahkan orang saja, tetapi kita terkesan hanya membenarkan orang saja itu tidak bisa. Manusia itu ada salah dan benar, makanya disebut bahwa manusia itu tidak sempurna,” tuturnya.
Rohendi menjelaskan, karya ini merupakan pengingat agar manusia dapat mempertimbangkan dengan bijaksana setiap masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita semua bisa berpikir bijak bahwa kita jangan hanya berpikir hitam dan putih, benar dan salah, sesuai atau tidak sesuai aturan. Hukum memang harus ditegakkan tetapi seberdampak apakah kesalahan seseorang terhadap yang urusan dengan hukum tersebut,” jelasnya.
Rohendi menambahkan, dalam situasi di mana kesalahan tidak mengancam atau merugikan banyak orang secara signifikan, sehingga tidak menimbulkan kerugian besar, pentingnya sikap maaf menjadi hal yang sangat berarti dalam kehidupan ini.
“Itulah makna lukisan yang saya buat yaitu topeng hitam dan putih,” tandasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Aas Arbi











