PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Bakal Calon Gubernur Banten Airin Rachmi Diany dan Bakal Calon Gubernur Banten Andra Soni beradu gagasan visi dan misi memimpin Banten di Universitas Mathlaul Anwar (Unma) Banten, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang.
Rektor UNMA Prof Doktor Syibli Syarjaya mengatakan, Bakal Calon Gubernur pertama kali datang Andra Soni dan kemudian Airin Rachmi Diany.
“Perlu kita ketahui bahwa pak Andra dan Airin ini merupakan, insan-insan terbaik di Provinsi Banten. Yang kedepan insya Allah akan memimpin Banten dari 2024-2029 yang akan datang,” katanya di UNMA Banten di Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang.
Prof Syibli menegaskan, dua insan yang hebat ini, secara pribadi ia kenal baik. Baik dengan Andra Soni maupun dengan Airin. “Maupun secara institusi karena Mathlaul Anwar, lahir di Provinsi Banten di Menes,” katanya.
Bakal Calon Gubernur Andra Soni dan juga Airin ini insya Allah sangat konsen dan amat memberikan perhatian kepada Universitas MA.
“Kita tahu kampus merupakan lembaga akademik yang mengesankan nalar, mengedepankan ilmiah, mengedepankan rasional daripada pragmatis apalagi tradisional,” katanya.
Oleh karena itu kehadiran Bakal Calon Gubernur tentunya sangat diharapkan kira-kira gagasan apa yang akan disampaikan lima tahun ke depan.
“Sehingga, temen-temen kami ini baik dosen, tenaga kependidikan, maupun sebagian mahasiswa yang hadir hari ini insya Allah gagasan dan ide pemikiran terkait Banten lima tahun ke depan akan kami sampaikan kepada masyarakat di lingkungan kami masing-masing,” katanya.
Sehingga mereka memiliki pilihan, bagaimana Banten ke depan. “Karena kami insan akademis yang tentu mengepankan ilmiah, mengedepankan nalar, dibandingkan emosi dan tradisional. Karenanya kami sangat mengharapkan gagasan meskipun pendapaftaran belum dimulai,” katanya.
Bakal Calon Gubernur Banten Andra Soni mengucapkan, rasa syukur alhamdulillah bisa hadir kegiatan ini yang sudah dibatalkan beberapa kali.
“Saya selalu mengkonfirmasi siap hadir, termasuk hari ini saya siap hadir sekalipun kandidat lain tidak hadir,” katanya.
Andra kembali, mengucapkan syukur alhamdulillah dirinya punya kesempatan menyampaikan visinya. “Bagi saya visi ini yang ada di kepala dan kemudian ada di hati, lalu kemudian kita lanjutkan dengan misi. Misi itu harus sebuah dokumen apa yang akan kita lakukan terhadap visi yang ada di pikiran kita,” katanya.
Andra menerangkan, sebagai kandidat Bakal Calon Gubernur Banten, ia memiliki gagasan. Ia memiliki visi tentang keadilan. “Bagaimana pembangunan itu berkeadilan, bagaimana seorang pemimpin berkeadilan, seorang pelajar harus sudah adil dalam pikiran apalagi perbuatan. Itu sebagian dasar pemikiran saya sebagai visi yang akan datang,” katanya.
Lebih lanjut Andra mengungkapkan, luas Provinsi Banten kurang lebih 9.000 kilo meter persegi. “Dan setengah lebihnya ada di Lebak dan Pandeglang. Dan IPM kita rata-rata tertinggi di tingkat nasional,” katanya.
Namun, Andra menilai, saat di zoom ternyata masih banyak ketimpangan. Oleh karena itu baginya yang terpenting hari ini adalah bagaimana pemimpin Banten ke depan adalah yang membawa visi pembangunan yang berkeadilan dan berbasis kebudayaan.
“Sehingga udaya yang masuk ke kita, sesuai kemajuan zaman yang harus kita filter. Dimana budaya-budaya itu yang harus bisa mengangkat memajukan Provinsi Banten ke depan,” katanya.
Berikutnya bagaimana melihat Provinsi Banten tidak melulu melihat ke belakang. Sudah tinggalkan permasalahan masa lalu.
“Kita melangkah visi ke depan karena waktu tidak bisa dibeli, waktu tak bisa ditawar. Maka Banten Maju ke depan akan merupakan visi yang akan saya bawa,” katanya.
Bakal Calon Gubernur Banten Airin Rachmi Diany mengungkapan, ada tiga aspek kunci mengenai pembangunan di Provinsi Banten.”Karena kalau kita bicara masa depan maka kita harus bicara banten hari ini. Provinsi Banten memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang maju,” katanya
Dimana letak strategis di ujung Barat Pulau Jawa yang kayak akan sumber daya alam, kawasan penyangga Jakarta, dan potensial mengembangkan kawasan industri. “Perkembangan telah dicapai sejak 23 tahun, insya Allah Oktober ini berusia 24 tahun,” katanya.
Berdiri menjadi pondasi dalam upaya pembangunan kedepan. Baik pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, perekonomian, eksistensi, peran pemangku kepentingan atau stake holder, birokrasi, pelaku usaha, lembaga sosial, komunitas, akademisi dan lainnya.
“Serta dokumen perencanaan dan target harus dicapai sebagai proses dalam pembangunan kedepan tantangan yang harus diselesaikan. Maka kita melihat isu strategis yaitu kurang maksimalnya birokrasi pemerintahan di Provinsi Banten,” katanya.
Kemudian, sumber pendapatan daerah yang terbatas. Perlunya refocusing penggunaan anggaran belanja daerah. Perlunya peningkatan kapasitas ASN,
Terdapat indeks peningkatan birokrasi dan reformasi. Perlunya peningkatan koordinasi dan komunikasi diantara pemerintahan provinsi dan kabupaten dan kota.
“Inilah yang saya rasakan bahwa komunikasi dan koordinasi yang saya lihat harus ditingkatkan. Kenapa karena provinsi ini adalah perwakilan dari pemerintah pusat di daerah tentu harus bisa menjembatani, menyambangi antara kabupaten dan kota,karena masyarakat adanya di kabupaten dan kota,” katanya.
Kedua, Airin menerangkan, bagaimana masih adanya kesenjangan akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. “Kita bisa melihat, isu strategis akses kesehatan publik belum merata, ketidakmerataan akses pendidikan. Industri berkembang pesat namun angka penganguran tetap tinggi. Urbanisasi di wilayah perkotaan menimbulkan masalah terkait kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Kemudian yang ketiga, yaitu ketimpangan pembangunan masih menjadi tantangan di Provinsi Banten. Daya saing wilayah belum kompetitif. “Oleh karena itu diperlukan visi dan misi dan program memaksimalkan potensi yang dimiliki, mengoptimalkan apa yang sudah dilakukan dan menyelesaikan tantangan dihadapi saat ini. Dan saat akan datang,” katanya.
Oleh karena itu, untuk misi yang ia tawarkan adalah Banten Maju Bersama. “Tidak ada lagi daerah tertinggal semuanya maju bersama,” katanya. (*)
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











