KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kanker otak merupakan pertumbuhan sel abnormal di jaringan otak yang membentuk tumor. Di mana, tumor ini dapat bersifat jinak (tidak menyebar) atau ganas (kanker), namun dapat mengganggu fungsi otak, seperti gerakan, pikiran, dan emosi.
Kanker ini bisa berasal dari otak itu sendiri (tumor primer) atau menyebar dari organ lain (tumor metastatik). Dan hingga kini penyebab pastinya belum diketahui, namun faktor genetik, mutasi sel, dan paparan radiasinya dapat meningkatkan risikonya.
Kanker otak terjadi karena pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam jaringan otak, namun penyebab pasti dari kanker otak masih belum sepenuhnya dipahami. Berdasarkan penelitian medis, beberapa faktor yang diyakini berperan dalam risiko terkena kanker otak meliputi faktor genetik, mutasi DNA, paparan radiasi, serta pengaruh lingkungan tertentu.
dr. Wienorman Gunawan, Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, menegaskan, penting untuk mengenali gejala awal kanker otak dan segera melakukan konsultasi medis. Kombinasi deteksi dini dan pendekatan pengobatan yang tepat dapat meningkatkan peluang kesembuhan.
“Nah, peran genetik dalam risiko kanker otak adalah faktor genetik memainkan peran penting dalam risiko kanker otak,” tegas dia dari keterangan tertulis yang dikutip Minggu, 24 November 2024.
Selain itu kata dr. Wienorman, peran lingkungan dalam risiko kanker otak juga dapat meningkatkan risiko kanker otak yang bisa meliputi paparan radiasi yang telah terbukti meningkatkan risiko tumor otak primer seperti glioma.
“Misalnya, individu yang menjalani radiasi terapi kepala memiliki risiko lebih tinggi terkena glioma dan meningioma,” terangnya.
Dikatakan dr. Wienorman, beberapa studi mencoba menghubungkan polusi udara dan paparan radiasi elektromagnetik dari perangkat seperti ponsel bisa berisiko kanker otak. Namun bukti masih terbatas dan tidak konklusif
Dirinya mengungkapkan, di Bethsaida Hospital, deteksi dini kanker otak dapat dilakukan dengan beberapa rangkaian tes dengan pencitraan (MRI & CT Scan). Dimana, pemindahannya untuk mendapatkan gambaran otak yang mendetail dan mendeteksi tumor.
“Juga ada fasilitas EEG yang bisa di gunakan jika pasien mengalami kejang untuk merekam aktivitas otak melalui elektroda di kulit kepala,” ucapnya.
Dirinya juga mengatakan, penanganan kanker otak itu bergantung pada jenis, lokasi, ukuran tumor, serta kondisi kesehatan pasien dengan melakukan pendekatan utama yang dapat dilakukan meliputi pembedahan semua mengangkat sebanyak mungkin tumor tanpa merusak jaringan otak sehat.
Selain itu, penderita kanker otak juga bisa melakukan terapi Radiasi dengan menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker.
“Lalu bisa juga dengan Kemoterapi dengan pemberian obat-obatan untuk membunuh sel kanker atau memperlambat pertumbuhannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Pitono menambahkan, Bethsaida Hospital Gading Serpong memiliki klinik bedah saraf dengan fasilitas dan layanan yang dirancang khusus untuk menangani berbagai kondisi saraf, termasuk kanker otak.
Kami berkomitmen untuk menyediakan perawatan berkualitas tinggi, mulai dari diagnosis hingga pengobatan, dengan pendekatan yang holistik dan didukung oleh tim ahli untuk mendukung proses penyembuhan dan memberikan kenyamanan maksimal bagi pasien,”tutupnya.
Editor : Aas Arbi











