PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kabupaten Pandeglang terus menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pelayanan kesehatan hewan hingga akhir 2025. Hingga triwulan kedua, realisasi PAD baru mencapai sekitar 60 persen dari target tahunan.
Kepala UPT Puskeswan Pandeglang, Ade Setiawan, mengatakan target PAD tahun ini sebesar Rp50 juta, dengan realisasi per Agustus 2025 sudah mencapai Rp30 juta.
“Kita sudah 60 persen, ini sudah luar biasa. Setiap tahun selalu tercapai 100 persen. Sekarang sudah triwulan kedua, insyaallah tercapai sampai akhir tahun,” kata Ade, Jumat, 8 Agustus 2025.
Ia menjelaskan target tahun ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, menyesuaikan kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai belum stabil.
“Targetnya diturunkan karena mempertimbangkan daya beli masyarakat. Kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Meski begitu, stok obat untuk pelayanan kesehatan hewan masih mencukupi. Saat ini tersedia persediaan untuk sekitar 1.000 kali pelayanan, meliputi vitamin, antibiotik, hingga obat penyakit kulit dan flu.
“Vitamin jadi obat yang paling banyak digunakan. Hampir semua hewan yang diperiksa pasti diberikan vitamin. Stok obat cukup sampai akhir tahun untuk sekitar 2.000 kali pelayanan,” jelasnya.
Terkait biaya, tarif pelayanan mengacu pada Peraturan Daerah (Perda). Operasi ringan hewan dibanderol Rp150 ribu, sedangkan operasi besar Rp200 ribu.
“Yang mahal itu bukan obatnya, tapi biaya perawatan seperti makan, grooming, atau salon. Kalau biaya medis seperti vitamin atau antibiotik relatif murah, sekitar Rp10 ribu,” beber Ade.
Seluruh pembayaran pelayanan di Puskeswan Pandeglang menggunakan sistem digital Juris yang terintegrasi dengan kas daerah. Menurut Ade, pihaknya juga sering memberikan diskon atau layanan gratis sebagai bentuk promosi dan edukasi administrasi kepada masyarakat.
Ia mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksakan hewan peliharaan, bahkan saat dalam kondisi sehat, guna mencegah biaya perawatan tinggi ketika sakit.
“Kalau hewan sehat, periksa ke Puskeswan jauh lebih murah daripada menunggu sakit. Sama seperti manusia, tapi hewan belum punya jaminan kesehatan,” pungkasnya.
Editor: Aas Arbi











