CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Dugaan pencemaran lingkungan mencuat di Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang. Sebuah pabrik tahu di Kampung Lapak diduga membuang limbah langsung ke saluran irigasi tanpa pengolahan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak), Selasa 12 Agustus 2025, setelah menerima laporan dari Cilegon Education Watch (CEW).
Dalam laporannya, CEW yang diketuai Deni Juwaeni alias Abah Jen menyebut aktivitas pabrik tersebut tak hanya mencemari air, tapi juga berdiri di atas lahan tanpa izin resmi. Bahkan, diduga terjadi penyerobotan lahan.
“Masyarakat sekitar sering mengeluhkan gatal-gatal, iritasi kulit, dan gangguan pernapasan akibat terpapar bau dari limbah tersebut. Selain itu, ada kekhawatiran akan penyebaran penyakit melalui air yang tercemar limbah,” terang Abah Jen dalam laporan tertulis yang diterima Radar Banten.
Ia juga menyebut air selokan di sekitar lokasi berubah warna, mengeluarkan bau tidak sedap, dan diduga kuat mengandung bahan berbahaya sisa produksi tahu.
Hasil sidak DLH menunjukkan bahwa pabrik tidak beroperasi saat diperiksa. Namun, tim menemukan limbah cair (grey water) dan limbah produksi lainnya dibuang langsung ke lingkungan tanpa sistem pengolahan apapun. Peralatan produksi tahu terlihat masih tersisa, menunjukkan kegiatan produksi belum lama dihentikan.
Selain itu, di area pabrik juga ditemukan kandang sapi dan kerbau yang berdampingan langsung. Menurut CEW, pemilik peternakan seharusnya memiliki surat kerja sama dengan dokter hewan serta berada di bawah pengawasan mantri hewan, namun hal itu tidak terlihat di lokasi.
Pabrik diketahui menggunakan kayu bakar untuk proses produksi. Praktik ini dikhawatirkan menambah beban pencemaran udara dan memperparah kondisi lingkungan sekitar.
Saat dimintai keterangan di lokasi, petugas DLH yang hadir enggan memberikan pernyataan lebih lanjut kepada wartawan.
CEW mendesak DLH dan Pemkot Cilegon menindak tegas pelaku usaha yang abai terhadap lingkungan, apalagi jika beroperasi tanpa izin dan merugikan warga sekitar.
Editor : Merwanda











