SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kalau kamu suka baca buku nonfiksi yang bikin mikir panjang setelah menutup halamannya, nama Yuval Noah Harari pasti sudah enggak asing lagi. Sejarawan ini sukses bikin topik sejarah dan masa depan manusia terasa seru dibaca, bahkan buat orang yang biasanya “alergi” sama buku sejarah.
Karya paling populernya tentu “Sapiens: A Brief History of Humankind”. Buku ini ngebahas perjalanan manusia dari zaman Homo sapiens berburu dan meramu, sampai kita jadi manusia modern dengan teknologi canggih.
Banyak pembaca yang bilang, setelah baca Sapiens, cara pandang mereka tentang dunia jadi kebuka lebar.
Enggak berhenti di situ, Harari lanjut dengan “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow”. Kalau Sapiens fokus ke masa lalu, Homo Deus ngajak kita mikirin masa depan.
Topiknya mulai dari kecerdasan buatan, bioteknologi, sampai ambisi manusia “jadi dewa” lewat sains.
Pokoknya, setelah baca ini bisa bikin kita mikir: “Wah, sebenarnya kita bakal ke mana sih sebagai manusia?”
Lalu ada juga “21 Lessons for the 21st Century”. Isinya lebih membumi.
Membahas isu-isu kekinian: politik global, fake news, perubahan iklim, sampai bagaimana kita harus nyiapin diri menghadapi dunia yang makin enggak pasti.
Cocok buat pembaca yang pengen ngerti tantangan zaman sekarang tanpa harus baca artikel akademis yang ribet.
Harari juga bikin versi ringan. “Sapiens: A Graphic History” hadir dalam format komik, jadi lebih gampang dicerna, terutama buat generasi muda.
Dan, terakhir, ada seri anak-anak “Unstoppable Us” yang ngenalin sejarah manusia dengan bahasa sederhana dan penuh ilustrasi.
Yang bikin buku-buku Harari laku keras di seluruh dunia bukan cuma isi materinya, tapi cara dia nyeritain sesuatu. Bahasanya lugas, kadang nyeleneh, tapi tetap dalam.
Baca bukunya serasa lagi ngobrol sama dosen asik yang bisa jelasin topik berat dengan bahasa sehari-hari.
Jadi, kalau akhir pekan ini bingung mau baca apa, mungkin saatnya melirik rak buku Harari. Siapa tahu setelah baca, kamu jadi punya perspektif baru tentang siapa kita sebagai manusia, dari mana kita datang, dan mau ke mana kita menuju.
Editor: Agus Priwandono











