PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kondisi lampu hias di Alun-alun Pandeglang sudah bertahun-tahun mati total tanpa perbaikan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pandeglang akhirnya blak-blakan soal alasan mangkraknya fasilitas yang seharusnya mempercantik wajah kota itu.
Sekretaris DLH Pandeglang, Winarno, mengakui pemeliharaan lampu hias memang tanggung jawab instansinya. Namun, ia berdalih keterbatasan anggaran membuat perbaikan terpaksa dikesampingkan.
“Memang khusus area Alun-alun Pandeglang tanggung jawab DLH. Kita ada anggaran pemeliharaan, tapi kondisinya terbatas. Padahal lampu hias itu penting untuk mempercantik suasana kota di malam hari,” kata Winarno, Sabtu 23 Agustus 2025.
Menurutnya, selain fungsi estetika, lampu hias juga berperan menjaga keamanan. Minim penerangan membuat alun-alun rawan jadi tempat aktivitas tak wajar.
“Kalau penerangan minim, bisa jadi tempat perbuatan yang aneh-aneh,” ujarnya.
Meski begitu, Winarno tak bisa menjawab lugas mengapa lampu dibiarkan mati bertahun-tahun. Ia berdalih DLH memprioritaskan program lain.
“Kenapa tidak diadakan lagi? Karena ada kendala anggaran. Kita utamakan program yang prioritas, baik pada masa sebelum Presiden Prabowo maupun sekarang. Tapi 2026 nanti, kita akan usulkan kembali ke TAPD,” jelasnya.
Ia mengklaim DLH hanya bisa melakukan perbaikan terbatas seperti memperbaiki kabel listrik yang putus akibat aktivitas warga atau faktor usia.
Kendati demikian, alih-alih menjelaskan detail, ia justru mengaku tidak tahu pasti saat ditanya soal besaran anggaran pemeliharaan lampu hias di Alun-alun Pandeglang yang sudah bertahun-tahun mati.
“Saya kurang hafal berapa besarannya anggaran pemeliharaan. Nanti, karena yang tahu itu Bu Suprihatiningsih selaku Koordinator Pertamanan di Alun-alun,” kata Winarno.
Sementara itu, Koordinator Pertamanan DLH Pandeglang, Suprihatiningsih, menyebut tahun ini sama sekali tidak ada alokasi anggaran pemeliharaan lampu hias. Usulan perbaikan jaringan listrik bawah tanah senilai Rp97 juta pun dicoret.
“Tahun ini nggak ada anggaran sama sekali. Kita sempat usulkan sekitar Rp97 juta untuk ganti jaringan listrik bawah tanah yang sudah rusak hampir semuanya, tapi dihapus lagi. Mudah-mudahan tahun depan bisa di-ACC,” kata Suprihatiningsih.
Ia menegaskan, alun-alun yang berada di jantung kota seharusnya mendapat prioritas pemeliharaan karena jadi pusat aktivitas warga maupun acara pemerintahan.
“Layaknya diberi anggaran yang memadai supaya bersih, indah, nyaman, dan lampu hias bisa kembali berfungsi,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Anggota DPRD Pandeglang Habibi Arafat menyoroti lampu hias mati bertahun-tahun itu. Ia mempertanyakan efektivitas anggaran DLH dalam merawat fasilitas publik.
Editor: Abdul Rozak











