PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wisata bukan hanya soal panorama alam, tetapi juga bisa jadi perjalanan mengenal sejarah.
Jika berkunjung ke Banten, rasanya kurang lengkap tanpa singgah ke Keraton Surosowan, salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Banten.
Keraton yang terletak di Jalan Masjid Agung Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, ini dibangun pada 1526 oleh Sultan Maulana Hasanudin. Bangunan megah pada masanya itu menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banten.
Kini, pengunjung bisa menelusuri sisa-sisa kejayaan tersebut lewat puing-puing Keraton Surosowan, dinding merah yang masih berdiri kokoh, hingga kolam bekas pemandian.
Suasana khas zaman keraton masih terasa, berpadu dengan pemandangan asri di sekitar lokasi.
Tak hanya belajar sejarah, wisatawan juga kerap menjadikan tempat ini sebagai spot berfoto, termasuk untuk pre wedding.
Latar belakang reruntuhan bersejarah membuat hasil foto semakin ikonik dan penuh makna.
Menjelajahi kawasan Keraton Surosowan membuat pengunjung seolah berjalan di antara potongan sejarah yang menunggu untuk dibaca ulang.
Dari sisa benteng, gerbang megah, hingga reruntuhan bangunan dalam istana, setiap sudut menyimpan cerita berharga.
Bagi pencinta sejarah, pelajar, peneliti, hingga wisatawan umum, kunjungan ke Keraton Surosowan bukan sekadar ajang berswafoto.
Situs ini menjadi ruang belajar terbuka untuk mengenal sejarah Indonesia, khususnya warisan budaya Islam dan kearifan lokal di Banten.
Dahulu, kawasan ini dikenal megah dan tertata rapi. Di dalam kompleks keraton terdapat masjid, balairung, kolam pemandian, serta bangunan pendukung lainnya. Kehidupan masyarakat di dalamnya berjalan dengan aturan ketat dan nilai keislaman yang dijunjung tinggi.
Namun, kejayaan itu runtuh saat Sultan Ageng Tirtayasa berperang melawan Belanda pada 1680. Kehancuran berlanjut ketika Belanda di bawah pimpinan Daendels menghancurkan keraton pada 1808.
Kini, sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten itu bisa disaksikan langsung di Kota Serang.
Keraton Surosowan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan ketika berkunjung ke Banten.
Editor: Agus Priwandono











