LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID– DP3AP2KB Kabupaten Lebak mencatat capaian program Keluarga Berencana (KB) laki-laki sepanjang tahun 2025 masih tergolong rendah. Berdasarkan data dinas tersebut, jumlah pria yang mengikuti program KB pada 2025 tercatat sebanyak 1.888 orang.
Angka itu menurun jika dibandingkan capaian tahun 2024. Pada tahun sebelumnya, tercatat sebanyak 3.600 laki-laki di Kabupaten Lebak ikut serta dalam program KB, baik melalui metode kontrasepsi jangka pendek maupun jangka panjang.
Penurunan partisipasi tersebut menjadi perhatian karena keterlibatan laki-laki dalam program KB dinilai sangat penting. Selain sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam keluarga, KB pria juga berperan besar dalam menjaga kesehatan ibu.
KB laki-laki dinilai mampu mengurangi risiko kehamilan yang dapat membahayakan keselamatan perempuan, terutama pada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan perempuan menggunakan alat kontrasepsi.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah, menyebut rendahnya partisipasi KB pria masih dipengaruhi persepsi masyarakat yang menganggap KB sebagai urusan perempuan.
“Belum lumrah. Belum biasa laki-laki berKB. Karena sejak awal diperkenalkan program KB itu tuh sasarannya ibu-ibu. Iya, sasarannya yang hamil gitu ya yang bisa hamil. Padahal ada metode kontrasepsi yang ditujukan untuk pria,” kata Tuti kepada RADARBANTEN.CO.ID, Sabtu 14 Februari 2026.
Ia menjelaskan, KB laki-laki memiliki peran strategis ketika perempuan tidak diperbolehkan ber-KB karena kondisi medis tertentu. Dalam situasi tersebut, kehamilan justru dapat membahayakan nyawa ibu.
“Dan itu penting ketika ketemu dengan perempuan yang atas kondisinya dia tidak diperbolehkan berKB. Tapi kalau dia hamil pun akan membahayakan nyawanya,” ucapnya.
Menurut Tuti, kondisi tersebut kerap dialami perempuan dengan usia tertentu atau memiliki riwayat penyakit. “Misalnya karena usia. Dia masih usia subur tapi usianya sudah tua. Atau karena penyakit berbagai penyakit yang menghalangi dia untuk berKB,” lanjutnya.
Dalam kondisi demikian, keterlibatan suami menjadi solusi paling aman. “Artinya kan, dia tidak bisa berKB tapi enggak boleh hamil. Heeh. Terus gimana coba? Kan pilihan satu-satunya adalah yang ber-KB-nya ya suaminya. Gitu, dan metode KB suami kan ada,” tandasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











