PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Akademisi dari Universitas Mathlaul Anwar Banten, Eko Supriatno, memberikan pandangannya terkait satu tahun kinerja Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani-Iing Andri Supriadi, memimpin Kabupaten Pandeglang.
Menurut Eko, meski Dewi-Iing menghadapi tantangan besar, Pandeglang sebenarnya berada di persimpangan antara potensi besar dan kebutuhan untuk mengambil langkah konkret demi kemajuan.
Eko menyoroti bahwa meskipun Pandeglang secara geografis memiliki keunggulan, dengan luas wilayah yang besar, serta kedekatannya dengan Jakarta, sektor infrastruktur daerah ini tetap tertinggal dibandingkan daerah lain.
“Pandeglang, meskipun memiliki potensi luar biasa, selalu tertinggal dalam hal pembangunan infrastruktur. Salah satu alasan utamanya adalah penguasaan lahan yang sebagian besar dimiliki oleh perusahaan besar, seperti PT PN, Perhutani, dan HGU, serta kawasan konservasi TNUK dan Tahura Banten,” katanya kepada Radar Banten, Kamis, 19 Februari 2026.
Sebagai daerah yang berdekatan dengan pusat pemerintahan, Pandeglang seharusnya dapat memperoleh perhatian lebih besar, terutama dalam pengembangan infrastruktur yang bisa mendorong ekonomi daerah. Namun, kenyataannya, Pandeglang sering kali dijadikan ‘alat’ dalam pembangunan infrastruktur oleh pusat.
“Contohnya, di daerah lain seperti Lampung, yang viral, langsung mendapatkan alokasi dana Rp700 miliar untuk pembangunan. Namun, masyarakat Pandeglang yang sudah puluhan tahun berteriak sejak pemisahan dari Jawa Barat, masih merasakan ketertinggalan infrastruktur yang terus berlarut-larut,” lanjut Eko.
Eko juga menjelaskan bahwa proyek-proyek strategis yang menghubungkan Pandeglang dengan daerah lainnya, terutama yang bersifat maritim, memerlukan perhatian serius dan dukungan lebih besar.
“Pemda Pandeglang sudah memulai langkah-langkah strategis melalui pembentukan satgas dan sinergi dengan berbagai pihak. Namun, untuk benar-benar mempercepat pembangunan yang merata dan mendukung sektor unggulan seperti pariwisata dan perikanan, dana yang lebih besar dan sinergi yang lebih intensif dengan pusat sangat dibutuhkan,” katanya.
Selanjutnya sektor ekonomi, Pandeglang masih mengandalkan pertanian dan perikanan sebagai pilar utama. Dengan luasnya wilayah pertanian dan garis pantai yang panjang, sektor-sektor ini jika dikelola dengan cerdas, dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang luar biasa.
“Namun, sektor pariwisata juga memiliki potensi yang luar biasa, terutama dengan adanya KEK Tanjung Lesung. Potensi wisata bahari dan wisata alam yang dimiliki Pandeglang harus didorong agar bisa menjadi destinasi global yang mendatangkan investasi dan wisatawan internasional,” katanya.
Eko menegaskan, meskipun KEK Tanjung Lesung menyimpan harapan besar, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait infrastruktur yang mendukung aksesibilitas ke kawasan tersebut.
“Dengan langkah yang tepat dan dukungan dari pemerintah pusat serta sektor swasta, dampak positif dari KEK ini bisa segera dirasakan, membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Pandeglang,” tegasnya.
Selain itu, Eko menekankan pentingnya penanganan masalah kemiskinan dan stunting yang menjadi tantangan besar di Pandeglang. Sektor pendidikan dan kesehatan juga perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
“Pandeglang berada pada titik krusial untuk memanfaatkan seluruh potensinya. Dengan kebijakan yang berbasis data, sinergi antar sektor, serta pendekatan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, Pandeglang memiliki kesempatan besar untuk berkembang pesat.
“Kini saatnya Pandeglang memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keberagaman budaya yang menjadi kekayaan tak ternilai,” katanya.
Editor: Abdul Rozak











