JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID — Menteri Koordinator (Menko) bidang Infrastuktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan bahwa 70 persen sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar.
“Saat ini, penggunaan air di Indonesia didominasi oleh irigasi sebesar 74 persen, diikuti kebutuhan rumah tangga 9 persen, industri 6 persen, dan komersial 3 persen,” ujar AHY, Selasa, 23 Februari 2026.
Namun ditengah tingginya kebutuhan itu, kata AHY, Indonesia secara tidak langsung tengah menghadapi persoalan struktural dalam pengelolaan air.
“Masalah utama yang kita hadapi adalah ketimpangan antara suplai dan permintaan, terutama di Pulau Jawa yang dihuni oleh sekitar 150 juta penduduk,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, AHY juga menyoroti persoalan kualitas yang kian mengkahwatirkan. Terlebih terkait sungai yang ada di Tanah Air.
“Selain itu, pencemaran air menjadi kendala besar di mana 70 persen sungai nasional kita mengalami polusi,” tuturnya.
Dari sisi kapasitas penyimpanan air, kata AHY, Indonesia juya masih tertinggal dibandinhkan negara tetangga. Misalnya Vitenam dan Thailand.
“Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, kapasitas penyimpanan air per kapita kita masih sangat rendah, yakni hanya 71 meter kubik per kapita, padahal angka idealnya berada di kisaran 100 hingga 150 meter kubik per kapita,” imbuhnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah melalui Kemenko Infrastruktur menyiapkan strategi yang cukup terpadu. Yakni dengan sebutan “Warung Jamu”.
“Saya sebut sebagai Warung Jamu, yang merupakan akronim dari Waktu, Ruang, Jumlah, dan Mutu,” jelasnya.
Dari sisi waktu, pemerintah mendorong pembangunan bendungan, kolam retensi, dan groundwater recharge guna mengatasi kelebihan air saat musim hujan dan kekurangan saat kemarau.
Dari sisi ruang, konektivitas antara sumber air dan pusat populasi diperkuat melalui transmisi pipa dan inter-basin transfer.
“Dari sisi jumlah, ekspansi penyimpanan dan teknologi desalinasi terutama untuk daerah pesisir harus ditingkatkan,” imbuhnya.
“Sementara dari sisi mutu, pengelolaan sampah dan limbah serta monitoring kualitas air harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kesehatan masyarakat,” sambung AHY.
AHY menambahkan, pihaknya menggandeng seluruh elemen bangsa: pemerintah, pengusaha, akademisi, masyarakat sipit hingga media untuk berkolaborasi mempekuat ketahanan air nasional.
“Apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk kita sendiri, melainkan untuk menyelamatkan masa depan negeri dan dunia,” tukasnya.*
Reporter : Candra Pratama (Disway)











