LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Permintaan kue tradisional Jojorong di Kabupaten Lebak meningkat drastis selama Ramadan. Masyarakat menjadikan kue khas tersebut sebagai menu wajib berbuka puasa, bersanding dengan beragam takjil lainnya.
Jojorong memiliki ciri khas warna putih dengan lapisan gula merah di bagian dasar. Kue ini dicetak menggunakan daun pisang yang dibentuk menyerupai mangkuk persegi sehingga menghadirkan aroma khas yang menggugah selera.
Perpaduan santan, tepung beras, dan gula merah menciptakan cita rasa manis legit. Aroma daun pisang yang terkena uap panas saat proses pengukusan semakin menambah sensasi tradisional yang sulit tergantikan.
Di Kampung Selaraja Tengah, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, pembuatan Jojorong masih dilakukan secara tradisional. Adonan tepung beras dan santan dicampur gula merah, lalu dituangkan ke dalam cetakan daun pisang sebelum dikukus di atas tungku bara api sekitar satu jam.
Proses yang memakan waktu tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah maraknya makanan instan, Jojorong tetap bertahan dengan cara lama yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu pedagang, Iyar, mengaku bersyukur setiap Ramadan tiba karena pesanan meningkat signifikan. “Alhamdulillah, jalan tiap hari. Banyak yang pesan. Jadi pokoknya makanan tradisional mah yang paling banyak dicari masyarakat tuh cuman gegeplak, jojorong,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya, Rabu 25 Februari 2026.
Selain Jojorong, ia juga menerima pesanan geplak, buras, hingga risol. “Harga Jojorong Rp1.500 per buah. Geplak juga sama. Kalau karoket 10 pcs harganya Rp8.000 sampai Rp10.000 sudah pakai sambal,” jelasnya.
Di hari biasa penghasilannya tidak menentu, namun saat Ramadan omzetnya bisa mencapai jutaan rupiah. ” Ya kadang-kadang kita sehari dapat kecilnya 300, gedenya 500 gitu,” tandasnya.
Ia menambahkan, bahwa usaha miliknya bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjaga warisan kuliner tradisional keluarga.
Editor: Abdul Rozak











