LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Semangat ditunjukan warga Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, dalam menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW patut diacungi jempol. Warga kompak bergotong royong membuat berbagai replika raksasa yang unik dan mencuri perhatian.
Tampak sejumlah warga tengah sibuk merangkai bambu menjadi kerangka. Perlahan, kerangka itu diselimuti karung semen dan kertas hingga membentuk sosok T-Rex sepanjang 14 meter yang gagah, seakan hidup kembali. Selain itu mereka juga membuat berbagai macam replika, mulai dari gajah, angsa, tawon, hingga replika rudal raksasa.
“Pengerjaannya hampir sebulan, tapi karena siang semua kerja, ya hanya bisa dikerjakan malam hari. Bahannya dari bambu sekitar 30 batang dan karung goni sampai 40 lembar,” kata Iswandi, kepada RADARBANTEN.CO.ID di tempat pembuatan replika, Senin 1 September 2025.
Iswandi menyebutkan, bahwa tradisi membuat replika ini sudah berlangsung setiap tahun dengan tema berbeda-beda. Tahun lalu warga membuat ikan hiu, tahun ini T-Rex dipilih karena dianggap menantang dan menarik perhatian warga setempat. Selain itu, ada juga replika lain seperti gajah, mobil-mobilan, hingga Perahu.
“Ada banyak ya T-Rex ada. Ada rudal, ada tawon, ada gajah, mobil. Mobil-mobilan banyak juga. Banyak sekali sih teman-teman, banyak yang bikin,” ujarnya.
Iswandi mengungkapkan, bahwa seusai rampung, semua replika tersebut akan diarak keliling kampung, melewati sejumlah wilayah di Kecamatan Warunggunung. Pawai digelar siang hari sebelum malam puncak perayaan Maulid Nabi di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Sindangsono.
“Sangat antusias sekali. Makanya tiap setahun setiap tahun itu pasti rame lagi itu dan pasti bikin semua. Jadi terdorong bikin-bikin terus. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sindangsari, Yudi, menyebut ada sekitar 10 replika besar yang dibuat warganya tahun ini. Semua dikerjakan dengan biaya swadaya dan semangat gotong royong.
“Kalau dihitung, untuk T-Rex saja bisa sampai Rp3 juta biayanya. Tapi semua dari hasil kebersamaan warga. Inilah bentuk ukhuwah Islamiyah yang terbangun di kampung kami,” jelas Yudi.
Yudi juga menyampaikan, bahwa tradisi membuat replika bukan hanya soal kreativitas seni, tetapi juga menjadi wadah mempererat persaudaraan antarwarga. Setiap malam, warga lintas usia berkumpul, bekerja sama menyelesaikan karya yang akan menjadi kebanggaan kampung.
“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Tiap tahun pasti ada dorongan untuk membuat yang baru lagi. Ini sudah jadi tradisi yang ditunggu-tunggu,” tambah Iswandi.
Editor: Abdul Rozak











