Kolom Agama di e-KTP Warga Adat Baduy Kosong

Ayah Mursyid: Lebih Baik Kosong dari pada Tidak Sunda Wiwitan

LEBAK – Kolom agama di kartu tanda penduduk (KTP) elektronik atau e-KTP yang baru saja dicetak oleh Dirjen Dukcapil Kemendagri untuk warga adat Baduy kosong. Tidak ada agama apapun yang tertulis dalam kolom tersebut. Termasuk Sunda Wiwitan yang diinginkan oleh warga Baduy.

Hal tersebut diketahui setelah Dirjen Dukcapil Kemendagri dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK2B) Provinsi Banten, Dinas Dukcapil Kabupaten Lebak melakukan perekaman dan pencetakan e-KTP di lingkungan Baduy baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh menuturkan, dikosongkannya kolom agama di e-KTP warga Baduy karena pencantuman kepercayaan Sunda Wiwitan masih menunggu ketetapan presiden.

Namun diperkirakan, kepercayaan warga yang ada di Banten Selatan tersebut tetap tidak akan ditulis namun dengan keterangan penganut kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa.

“Jadi nama Sunda Wiwitan-nya enggak ditulis, kan banyak di Indonesia seperti di sini (penghayat kepercayaan). Bentuknya sama, tapi nanti polanya ada ditulis agama/ kepercayaan lalu titik dua, atau agama titik dua lalu di bawahnya kepercayaan titik dua. Nah kalau agama yang diisi kepercayaanya enggak, kalau kepercayaannya yang diisi agamanya dicoret,” papar Zudan setelah penyerahan simbolis e-KTP, Senin (19/2).

Tidak ditulisnya Sunda Wiwitan di kolom agama e-KTP menurut Zudan berdasarkan hasil kesepakatan lembaga adat. “Kesepakatannya gitu,” katanya.

Menurut Zudan, jika Presiden Joko Widodo sudah menetapakan penulisan kepercayaan di e-KTP, pemerintah akan melakukan pencetakan ulang. Namun Zudan kembali menegaskan tidak ada keterangan Sunda Wiwitan dalam kolom itu, tapi penganut kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa.

“Kalau udah rekam, tinggal cetak, kan cepat,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, selama sepekan, ada sekitar 1.800 warga Baduy Dalam dan Luar yang melakukan perekaman. Dari total 5.300 warga Baduy, masih sekitar 1.000 warga yang belum melakukan perekaman.

Sementara itu, tokoh adat Baduy Dalam Ayah Mursyid menjelaskan, warga Baduy sudah lebih dari 10 tahun berharap agar Sunda Wiwitan bisa tercantum dalam kartu identitas penduduk.

“Sudah minta ke pemerintah Lebak, Provinsi, Pusat juga,” kata Ayah Mursyid kepada awak media.

Menurut Ayah Mursyid, masyarakat Baduy keukeuh ingin nama Sunda Wiwitan yang tercantum di kartu identitas, tidak nama lain termasuk penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Lebih baik kosong dari pada enggak Sunda Wiwitan, kalau saudara-saudara yang lain ingin gitu enggak apa-apa, kalau warga Baduy mah tetep,” ujarnya.

Ayah Mursyid pun berharap agar pemerintah mau menuruti kemauan warga Baduy tersebut. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)