SERANG – Asisten Daerah (Asda) III Bidang Administrasi Umum Widodo Hadi menilai hingga saat ini banyak aset Banten yang berharga berada di Belanda. Aset berharga yang dimaksud Widodo adalah naskah kuno atau karya literatur lama tentang Banten yang tersimpan di beberapa museum negara tersebut.
Hal tersebut dikatakan Widodo saat membedah naskah Al-Insan Al-Kamil bersama sejumlah akademisi dan tokoh Banten di ruang transit pendopo Gubernur Banten hari ini, Senin (14/11), yang dihadiri oleh Ketua Kerukunan Ulama se-Asia Tenggara KH Rohimudin Nawawi , Agus Nizar Vidiansyah dan Muhamad Safari dari ICMI Banten, Mufti Ali, para kiyai, ulama, perwakilan perguruan tinggi, dan perwakilan pondok pesantren di Banten.
Al-Insan Al-Kamil sendiri menurut Widodo merupakan satu dari sekian banyak naskah yang telah berhasil disalin atau di repro untuk keperluan akademis oleh para ilmuan Banten. “Keberadaan naskah-naskah tersebut merupakan aset berharga bagi masyarakat Banten karena merupakan bukti bahwa Banten sejak dulu memiliki budaya menulis yang digagas oleh para ulama dilingkungan keraton kesultanan dan pondok pesantren,” ujar Widodo.
Warisan budaya menulis yang diwariskan kesultanan Banten ini menurut Widodo harus dipelihara karena memiliki posisi strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keilmuan dan tentunya diimbangi dengan spirit untuk membangun banten kea rah yang lebih baik. Karena itu, menurutnya, Pemprov Banten terus bersinergi dengan para pakar tentang Banten untuk mengenalkan naskah-naskah kuno tentang Banten kepada para pelajar, mahasiswa atau pondok pesantren mengenai nilai-nilai luhur atau pesan keterkaitan historis antara masa lalu dengan relevansi kondisi masyarakat saat ini.
Untuk menjaga dan agar naskah-naskah tersebut bisa dibaca dan dipelajari oleh akademisi atau masyarakat Banten, menurut Widodo Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten saat ini memiliki ruangan khusus bernama ‘Banten Corner’.
Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Banten Deden Apriandhi mengungkapkan, naskah Al-Insan Al-Kamil merupakan salah satu aset berharga bagi masyaralat banten karena memiliki muatan kearifan lokal yang bermanfaat, tidak hanya mengungkap pandangan hidup masyarakat pada masa tersebut namun juga relevansinya dalam rangka pembantukan dan pembinaan karakter bangsa pada masa kini, khususnya bagi masyarakat banten yang semakin berkembang.
“Kami bekerjasama dengan Bantenologi dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia wilayah banten berupaya untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap naskah-naskah tentang banten, baik yang sudah tersimpan di tanah air maupun yang masih tersebar di luar negeri,” ucap Deden.
Sementara itu, perwakilan Labolatorium Bantenologi, Mufti Ali menyebutkan, naksah Al-Insan Al-Kamil yang terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda adalah salinan naskah Insan Kamil karya Abdul Karim Al-Jili yang diberi terjemah antar baris oleh seorang ulama pada masa Abu I’Mafakir Abdul Kadir.
“Karya tasauf falsafi ini nampaknya menjadi bahan ajar dalam majlis pengajian di lingkungan kerator Kesultanan Banten dan mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari para sultan banten yang memang dikenal sangat konsen dengan pengkajian kazanah intelektual islam,” ungkapnya. (Bayu)









