SERANG – Dinamika politik menjelang Pilkada Kota Serang makin dinamis. Diprediksi akan muncul tiga poros yang akan memperebutkan kursi walikota pasca Tb Haerul Jaman.
Pengamat politik Leo Agustino memperkirakan, bakal ada dua sampai tiga pasangan calon walikota dan wakil walikota. Apalagi, sampai hari ini belum ada pengumuman KPU sebab pendaftaran partai dilaksanakan pada Januari, sementara melalui jalur perorangan dimulai pada akhir tahun ini.
Kata dia, apabila merujuk pada nama-nama yang sering muncul, ia memprediksikan ada dua sampai tiga nama yang akan muncul. “Mereka adalah Vera Nurlaela Jaman, Subadri Usuludin, dan Nuraeni. Namun, yang saya sebutkan terakhir sedang kelimpungan meyakinkan Demokrat untuk mendukungnya,” ujar pengajar Fisip Untirta kepada Radar Banten, Kamis (5/10).
Jika Demokrat mendukung Vera, ia mengatakan, kemungkinan akan ada dua pasang calon, yakni Vera yang didukung oleh Golkar dan koalisi dan Subadri yang akan didukung oleh PPP dan koalisi.
Terkait nama Ranta Soeharta yang saat ini mencuat, Leo mengatakan, dalam beberapa survei suaranya cukup. “Kita belum tahu komposisi pasti pasangan sehingga yang bisa lakukan adalah melakukan proyeksi dan analisis ke depan,” ujarnya.
Kata dia, sebagai sekda dan memiliki suara cukup baik di dua survei (Untirta dan LSI), Ranta punya peluang bagus. Namun, ada satu problem yakni apakah partai-partai yang duduk di DPRD pasti akan mendukungnya atau tidak.
Ia mengatakan, dengan mencuatnya kabar pasangan Ranta-Subadri Usuludin jika ada dari mereka yang legowo menjadi Serang 2, persaingan 2018 menjadi seru karena ada beberapa poros yang bersaing. Pertama, poros balai kota di mana Vera menjadi kandidatnya yang didukung oleh petahana. Kedua, poros KP3B, jika Ranta berkoalisi dengan Subadri. Terakhir, Demokrat apabila memajukan calonnya sendiri. “Kedua dan ketiga poros inilah yang mungkin bersaing dalam kontestasi tahun depan,” ujar Leo.
Dihubungi terpisah, pengamat politik Untirta Agus Sjafari menilai, kemunculan Ranta dan Subadri menambah persaingan bursa kepemimpinan di ibukota Provinsi Banten. “Sepertinya rakyat Kota Serang menginginkan calon alternatif, tidak terpusat pada satu atau dua orang. Ini sehat dalam konteks demokrasi,” katanya kepada Radar Banten via sambungan telepon seluler, Kamis (5/9).
Kemunculan mereka juga akan memberikan warna tersendiri. Masyarakat Kota Serang tidak hanya diperlihatkan pada figur semata tetapi juga track record pada setiap kandidat yang muncul ke publik. “Masyarakat Serang melihat track record bukan hanya figur semata,” kata Dekan FISIP Untirta ini.
Selain itu, kemunculan nama Ranta dan Badri, lanjut Agus membuat persaingan Pilkada Kota Serang tidak hanya didominasi pada sosok Vera Nurlaela Jaman dan Nuraeni. “Rakyat Serang tidak disuguhkan kepada persaingan dua srikandi, tetapi ada calon lain. Vera dan Nuraeni, orang itu selama ini selalu jadi perbincangan baik positif dan negatif,” ujarnya.
Agus menyebut, jika kemungkinan Ranta dan Badri dapat berduet pada pesta demokrasi lima tahunan di Kota Serang, mereka akan menjadi pesaing serius bagi Vera. “Mereka berdua (Ranta dan Badri-red) bisa jadi ‘kuda hitam’ untuk menandingi dua srikandi itu (Vera dan Nuraeni-red),” kata Agus.
Meski tidak menyebut formasinya, Agus memprediksi akan ada lebih dari dua pasangan yang bakal ikut ambil bagian dalam Pilkada Kota Serang. Namun, semuanya masih cukup dinamis di tengah sikap politik partai yang masih pragmatis. “Kemungkinan ada tiga atau empat pasang,” ujarnya. (Supriyono-Rostinah/RBG)








