SERANG – Wati (110), wanita lansia ini hidup sebatang kara di gubuk reot pinggir rel kereta api, lingkungan Sumur Pecung, Kota Serang. Ia berharap dapat bantuan dari Pemerintah Kota Serang agar rumahnya bisa diperbaiki.
Rumah yang ditinggali Wati tidak layak huni. Rumah seluas 3×6 meter ini beratap rumbia, penuh tambalan plastik. Dindingnya pun berbilik bambu.
Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan dan membahayakan keselamatan Nenek Wati. Musim hujan, atapnya bocor. Wanita tua itu mengaku sudah 50 tahun tinggal di gubuk reot.
“Nenek di sini sebatang kara, nenek pengen benerin rumah ini pake genteng, biar tidak bocor kalau hujan,” kata Wati kepada wartawan, Serang (19/10).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Wati jualan permen dan makanan kecil untuk anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang berada tak jauh dekat mushola samping gubuknya. Hingga kini, ia belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah Kota Serang.
“Nggak ada bantuan, sehari-hari jualan permen sama ciki di TPA, paling gede dapat RP 10 ribu, biasanya RP 3 ribu sampai Rp 4 ribu,” ungkap Wati.
Wati tidak memiliki anak kandung. Ia hanya memiliki keponakan yang tinggal di Kota Cilegon. Sayang, keponakannya jarang menjenguk Wati.
“Mungkin malu ya, rumahnya jelek,” ujar nenek tua itu.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Serang Samsuri mengatakan rumah milik Wati, wanita tua asal Sumur Pecung, Kota Serang ini akan diperbaiki November tahun ini.
“Rumah gubug yang kemarin itu di Perubahan 2017. November akan dibantu, disumbang dari Dinsos,” kata Samsuri via telepon, Kamis (19/10).
Meski demikian, kata dia, harus teliti mencermati tanah di atas gubug reot yang ditinggali Wati itu harus jelas. Untuk mengantisipasinya, pihaknya akan memgecek tanah tersebut ke lapangan.
“Jangan sampai tanah bukan milik dia,” ujarnya.
RTLH di Kota Serang cukup tinggi, lanjutnya, ada 3.600 rutilahu yang tersebar di 6 wilayah kecamatan di Kota Serang. Sementara itu, Pemkot baru memperbaiki 53 rumah tidak layak. Kata Samsuri, November 2017 ini sekira 16 rumah akan diperbaiki, termasuk gubuk milik Wati. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).











