SERANG – Ribuan anak di Provinsi Banten tercatat selama tahun 2017 mengalami gizi buruk. Data tersebut merupakan data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan Provinsi Banten.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, berdasarkan berat badan per umur sebesar 0,58 persen atau 5.713 anak yang mengalami gizi buruk. Sedangkan per tinggi badan sebanyak 0,12 persen atau 1.181 anak.
“Sedangkan gizi kurang sebesar 4,52 persen atau 44.950 anak. Data tersebut di bawah rata-rata nasional yaitu sekitar 14,4 persen gizi buruk dan sekitar 3,4 persen gizi kurang,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK2B) Siti Maani Nina dalam acara Sosialisasi ASI Ekslusif, Gizi dan GGL Bagi Keluarga Tingkat Provinsi di Ratu Hotel Serang, Kamis (19/10).
Menurut Nina, penyebab tingginya angka gizi buruk tersebut karena masalah pendidikan orangtua rendah, pengetahuan tentang gizi kurang, faktor ekonomi dan sebagainya. “Kasus gizi buruk ini merupakan masalah yang harus kita kerjakan bersama-sama, bagaimana cara penanggulangannya,” kata Nina.
Nina menjelaskan, masalah status gizi pada anak erat kaitannya dengan asupan makanan yang diterima sejak dalam kandungan hingga tumbuh menjadi remaja. ASI merupakan salah satu gizi terbaik yang harus diberikan pada anak sejak lahir hingga usia dua tahun.
“Karena ASI adalah suatu emulsi dalam laurat protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu pasca melahirkan, dan berguna sebagai makanan bayi,” katanya.
Nina melanjutkan, ASI merupakan cairan alamiah yang mudah didapat dan fleksibel, dan dapat diminum tanpa persiapan khusus dengan temperatur yang sesuai dengan bayinya, serta bebas dari kontaminasi bakteri sehingga mengurangi risiko gangguan intestinal. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)








