CILEGON – Kota Industri dan Kota Baja yang merupakan julukan lain Kota Cilegon ternyata berbanding terbalik dengan potret kehidupan beberapa masyarakatnya. Kemiskinan di tengah-tengah Kota Cilegon dengan hiruk pikuk mesin pabrik industri masih tampak terlihat nyata.
Seperti yang dialami pasangan suami istri (pasutri) Soleh (70) dan Sanah (50), warga Kampung Sukalila, Kelurahan Panggung Rawi, Kecamatan Jombang. Dengan keterbatasan ekonomi, pasutri yang sudah menikah puluhan tahun tersebut bersama seorang anak Rohana (7) terpaksa harus tinggal di sebuah gubuk yang kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak.
Pantauan Radar Banten, gubuk berukuran 6×4 meter yang terbuat seadanya dari sisa material, seperti tripleks bekas, papan bekas, pintu bekas, dan kardus bekas, serta beralaskan tanah terlihat sudah reyot. Bahkan, banyak lubang-lubang besar menganga di beberapa sisi dinding gubuk.
Begitu pula dengan kondisi atap rumah yang terlihat bolong-bolong. Sinar matahari pagi yang menembus lubang-lubang atap yang sudah bolong tersebut seakan memperjelas kondisi tidak layaknya gubuk itu. Tidak ada kata sempurna di semua sisi gubuk milik Soleh tersebut.
Kondisi memprihatinkan tidak hanya ada di ruang tamu dan atap gubuk saja. Bahkan, kondisi yang sangat memprihatinkan semakin terlihat ketika memasuki kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Selain itu, untuk memasuki dapur, penghuni gubuk terpaksa harus membungkukkan badan karena tinggi atap gubuk dengan lantai diperkirakan kurang dari 1,5 meter.
Semakin miris, ternyata tanah yang ditempati Soleh sekeluarga merupakan milik salah seorang warga yang bernama Mukhriji (almarhum). Bahkan dalam waktu dekat, ahli waris akan memanfaatkan tanah tersebut dan mau tidak mau Soleh sekeluarga harus rela angkat kaki dari gubuk tersebut.
Ditemui di kediamannya, Soleh mengungkapkan bahwa dirinya bersama istri dan dua orang anaknya sudah menempati gubuk tersebut selama sembilan tahun. Jika terjadi hujan lebat, ia terpaksa harus mengungsi karena atap bocor serta letak gubuk yang berada di tepi persawahan membuat gubuknya kerap terkena banjir. “Sebelumnya tinggal di kampung Kubang Laban, dekat kali. Saya disuruh nempatin sama yang punya lahan, tapi sekarang posisinya sudah dijual. Makanya, bingung juga nanti mau pindah ke mana,” kata pria lanjut usia itu dengan mata berkaca-kaca kepada awak media, Minggu (23/9) pagi.
Soleh menambahkan, selain bingung tidak memiliki tempat tinggal, ia juga mengaku kesulitan untuk menafkahi keluarganya. Kondisi tubuhnya yang sudah renta membuat Soleh tidak mampu untuk beraktivitas seperti biasa. “Untuk kebutuhan sehari-hari, saya mengandalkan anak pertama yang bekerja sebagai kuli bangunan. Dulu saya kerjanya buat bata, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Selain sudah tua, buat melihat saja sudah susah. Selain dari anak yang kerja kuli bangunan, kami juga mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa sembako. Tapi, kan tidak cukup buat sebulan,” tuturnya.
Di lokasi yang sama, Lurah Panggung Rawi Muhriji menyatakan, pemerintah melalui program bedah rumah tidak layak huni (rutilahu) kesulitan untuk membantu memperbaiki rumah milik Soleh. Hal itu dikarenakan tanah yang ditempati Soleh merupakan milik orang lain. “Kalau tanahnya milik yang bersangkutan, pemerintah pasti bantu buat bedah rumah. Tapi, ini kan lahan milik orang lain makanya tidak bisa,” ungkapnya.
Meski demikian, dalam waktu dekat pihaknya akan mencarikan solusi agar gubuk Soleh bisa dibenahi. “Kabarnya ahli waris mau menggunakan lahan yang ditempati Pak Soleh. Nah, kita akan beri solusi memindahkan rumah Pak Soleh ke tanah negara. Tidak jauh dari sini (Lingkungan Sukalila) ada tanah negara, nanti kita tempatkan di situ biar tidak digusur-gusur lagi. Bangunan rumahnya juga akan kita bantu memperbaikinya,” ucap Muhriji.
Untuk kebutuhan sehari-hari, pemerintah sudah memberikan bantuan kepada keluarga Soleh. “Pak Soleh setiap bulan mendapatkan sembako dari Pemerintah Cilegon melalui program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT). Dari Provinsi Banten juga dapat per triwulan sebesar Rp1,5 juta,” tandasnya.
Masih di tempat yang sama, Anggota DPRD Kota Cilegon dari Komisi III Rahmatulloh yang saat itu menggunjungi kediaman Soleh mengatakan, sebagai Wakil Rakyat ia akan segera mengupayakan bantuan untuk pembangunan rumah Soleh. “Saya akan upayakan semaksimal mungkin dengan cara saya. Pemerintah biar dengan cara mereka sendiri. Saya akan upayakan bantuan dari perusahaan-perusahaan di Cilegon melalui dana CSR. Perusahaan di Cilegon ini banyak, saya yakin Pak Soleh bisa mempunyai rumah yang layak huni,” ujarnya. (Andre AP/RBG)










