RANGKASBITUNG – Sutiah (64), warga Kampung Sentral, Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya di area belakang rumahnya pada Selasa (25/9), sekira pukul 06.00 WIB. Wanita paruh baya itu diduga nekat bunuh diri akibat putus asa dengan penyakit asam urat yang dideritanya.
Pantauan Radar Banten di lokasi, tempat kejadian perkara (TKP) bakar diri di Kampung Sentral menjadi perhatian masyarakat. Polisi yang telah berada di TKP langsung memasang police line (garis polisi) dan melakukan identifikasi terhadap jenazah. Sementara itu, tubuh Sutiah ditutupi daun pisang.
Omah, sepupu korban menyatakan, penemuan mayat dengan luka bakar menggegerkan masyarakat di Kampung Sentral. Awalnya suami korban, Juheri, tidak mengenali jenazah yang ditemukannya pada Selasa pagi itu merupakan istrinya. Lalu, dia menginformasikan penemuan mayat tersebut kepada anak dan kerabatnya. Setelah didekati, anak dan kerabat Juheri baru sadar bahwa mayat perempuan tersebut merupakan Sutiah.
“Mayat tersebut dikenali dari sandal korban karena jenazah tersebut mengalami luka bakar yang cukup parah,” kata Omah kepada wartawan, kemarin.
Juheri dan anak korban syok melihat Sutiah tewas mengenaskan. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung melaporkan peristiwa itu kepada Polsek Rangkasbitung. “Korban diduga putus asa dengan penyakit menahun yang dideritanya. Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya secarik kertas yang ditemukan di dalam rumah. Dalam surat tersebut Sutiah mengeluhkan sakit linu-linu (asam urat-red) yang tidak sembuh-sembuh,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, korban juga diduga membakar dirinya dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Sehari sebelum kejadian, korban membeli pertalite satu liter. Pihak keluarga tidak menyangka BBM tersebut digunakan untuk bunuh diri. “Bibi saya sering berobat, karena mengaku tubuhnya sering sakit. Dia sering mengeluh pegal dan linu-linu. Mungkin penyakit itu yang dikeluhkan korban dan ditulis dalam secarik kertas dan ditemukan kelurga,” terangnya.
Kanit Reskrim Polsek Rangkasbitung Ipda Hendro mengatakan, pihak kepolisian menerima laporan terkait penemuan mayat yang bakar diri sekira pukul 07.00 WIB. Polisi langsung bergegas ke TKP untuk mengamankan lokasi dengan memasang police line. Selanjutnya, anggota Polsek Rangkasbitung memintai keterangan sejumlah warga dan keluarga korban. “Hasil interogasi kepada pihak keluarga, ditemukan secarik kertas yang ditulis tangan. Isi surat tersebut menerangkan bahwa korban sering sakit pegal linu,” ujarnya.
Polisi juga mendapatkan informasi bahwa korban membeli BBM sebelum ditemukan tewas di belakang rumahnya. Untuk itu, polisi masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut sambil menunggu hasil identifikasi dan pemeriksaan dari tim Dokkes Polres Lebak. “Kondisi luka bakar di tubuh korban cukup parah. Karena itu, suaminya sendiri tidak mengenali korban ketika pertama kali ditemukan,” katanya. (Mastur/RBG)










