slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama Sosial Budaya

Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Bupati Tidak Harus Anak Bangsawan

Aas Arbi by Aas Arbi
06-04-2019 17:21:49
in Sosial Budaya
Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Bupati Tidak Harus Anak Bangsawan

Bangunan OSVIA yang kini difungsikan sebagai kantor Polres Serang. OSVIA Serang didirikan 1908 sebagai sekolah para calon pamong praja pemerintah kolonial Belanda. FOTO: DOK. KITLV.NL

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Sekolah pangreh praja berdiri. Reformasi birokrasi pun diberlakukan. Pejabat bupati tidak selalu harus darah biru (bangsawan) atau trah pejabat tinggi.

Baca Juga :

Syekh Nawawi Albantani, Guru Ulama Nusantara

Jejak Serang Ibukota Residen Banten: Antara Saung Sawah dan Tepi Sungai

Ruang Hiburan di Serang

Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Serang Kota Penghasil Guru

KEN SUPRIYONO – Serang

Bandul jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Selasa (2/4) siang. Lalu lalang kendaraan cukup padat melintas di Jalan Ahmad Yani, Cipare, Kota Serang. Tempat Markas Polres Serang berdiri. Gedung yang sebelum tahun 1949 dijadikan pusat pendidikan calon pegawai pemerintah Kolonial Belanda.

Di pelataran Mapolres Serang, beberapa calon anggota polisi berbaris rapi. Mereka tengah mengikuti pengarahan tes seleksi calon anggota Polri. Pengarahan itu tepat di depan halaman aula Polres Serang. Ruangan yang pada era 1900-an dijadikan ruang utama pendidikan pangreh praja. Tepatnya, setelah pada 5 Oktober 1908 gubernur jenderal mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1, pendirian Opleidingen School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai pada zaman Hindia Belanda.

Teriknya cuaca Serang terekam dalam dokumen notulensi pendirian OSVIA. Catatan yang menunjukkan silang pendapat atas pendirian sekolah tersebut. Udara yang panas jadi dalih kelompok yang kontra untuk menolak pendirian OSVIA di Serang. Juga dalih masyarakat Serang yang homogen dan mayoritas petani. Pandeglang dan Bogor jadi alternatif pilihan.

Dalam perjalanannya, alasan itu tak cukup kuat untuk mewujudkan pendirian OSVIA di Serang. Pertimbangan politis lebih dikedepankan. Serang adalah ibukota Residen Banten. Pusat kota yang banyak ditinggali keluarga pejabat kolonial.

Catatan sejarah pendirian OSVIA, kata sejarawan Banten Mufti Ali, diawali proses panjang dengan studi kelayakan. Juga perdebatan alasan pemilihan lokasi. Silang pendapat terlihat dari dokumen seperti notulensi rapat, dengar pendapat dengan Raad van Nederlanlansch-Indie dari Direktur Pertanian, catatan Departemen OEN, dan catatan dari Dinas Pemerintahan Dalam negeri.

“Saya memilki kesan bahwa keputusan untuk membangun OSVIA di Serang cukup alot,” kata Mufti.

Penulis buku Banten dan Pembaratan Sejarah Sekolah 1833-1942 menyebut, masa itu, biaya OSVIA sepenuhnya ditanggung pemerintah kolonial. Ada enam lokasi di seluruh Indonesia (Hindia Belanda). Yakni, Serang, Bandung, Magelang, Madiun, Blitar, dan Probolinggo.

Siswa OSVIA tidak hanya dari Serang. Pada surat resmi 27 Mei 1910 gubernur jenderal yang Mufti simpan salinannya menyebut, meminta agar calon siswa dari Lampung dan Palembang dapat diterima OSVIA di Serang. Permintaan lain, penggunaan bahasa Jawa Serang sebagai bahasa pengantar dan bantuan subsidi untuk pesta pembukaan sekolah.

Bahkan dalam dokumen lain, ada surat pemerintah kolonial yang mengizinkan satu orang Aceh atas nama Teuku Bahron. Juga dua orang Kalimantan Barat atas nama Urai Muhsin dan Urai Abu Bakar untuk masuk OSVIA di Serang.

Sebagai sekolah calon pangreh praja, siswa OSVIA mendapat pelajaran berbagai disiplin ilmu. Mulai dari ilmu pemerintahan, hukum, bahasa Belanda, ilmu ukur tanah, dan ukur permukaan air. Lalu, pembuatan garis dan peta hingga pengetahuan alam dan ilmu pertanian.

Menurut peneliti Banten Heritage Dadan Sujana, siswa-siswa OSVIA dididik sangat disiplin. Direktur sekolah dan pengajarnya tidak hanya memantau siswa mengerjakan tugas. Akan tetapi, ketepatan siswa dalam menyelesaikannya. Termasuk pengawasan secara ketat kehidupan asrama siswa. “Belanda masa itu sangat terencana dan terarah,” katanya.

Pendirian OSVIA tidak lepas dari kebutuhan Pemerintah Belanda, tetapi memanfaatkan sistem aristokrasi yang ada dari keluarga bangsawan untuk menjalankan administrasi kolonialnya. Sifat eksklusif golongan sosial dijaga. Caranya, dengan memberikan jabatan-jabatan yang tinggi hanya kepada para kerabat raja saja. Lalu, menunjukkan hubungan kekerabatan tersebut sebagai syarat siswa sekolah untuk pegawai pangreh praja.

Lantaran itu, Dadan menduga, banyak bupati masa itu yang sebenarnya kalangan masyarakat biasa. Namun, setelah Belanda mengangkatnya sebagai pejabat, yang bersangkutan mengubah namanya dengan tambahan gelar.

Kata Dadan, banyak bupati di Banten yang mengaku berasal dari keturunan Siliwangi dan Sultan Banten. Padahal, asal muasal tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan. “Di Banten sangat sedikit para bupati yang dari Banten, kebanyakan dikirim dari Priangan,” katanya.

Seiring perubahan yang terjadi, pemerintah Hindia Belanda melakukan reformasi di bidang birokrasi. Pada tahun 1915, prinsip pewarisan jabatan dihapuskan. Alasannya, tidak sesuai lagi dengan birokrasi modern.

“Sistem ini membuat seseorang untuk menjadi bupati tidak harus dari kalangan bangsawan,” katanya.

     Pandangan Dadan dipertegas tulisan Usmeadi dalam buku Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi untuk Pangreh Praja Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Serang Banten tahun 1900-1927. Ia menyebut, pemerintah Hindia Belanda menerapkan peraturan baru, seorang calon bupati harus memenuhi syarat-syarat seperti cakap, rajin, loyal, mampu berbicara bahasa Belanda. Tidak harus keturunan seorang bupati, dan telah menjadi wedana atau patih minimal dua tahun serta pendidikan minimal lulusan OSVIA. (Tulisan kedua dari tiga tulisan/bersambung)

Tags: feature
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

KPU Lebak Mulai Distribusikan Surat Suara ke 28 Kecamatan

Next Post

Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Related Posts

Syekh Nawawi Albantani, Guru Ulama Nusantara
Sosial Budaya

Syekh Nawawi Albantani, Guru Ulama Nusantara

by Aas Arbi
Kamis, 30 Mei 2019 08:13

Nama agung tersemat pada sosok Syekh Nawawi Albantani. Ratusan ulama dilahirkan dari kedalaman pengetahuannya. Kitabnya pun dirujuk ulama seantero Nusantara...

Read moreDetails

Jejak Serang Ibukota Residen Banten: Antara Saung Sawah dan Tepi Sungai

Ruang Hiburan di Serang

Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Serang Kota Penghasil Guru

Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Sekolah Subur, Serang Pusat Pendidikan

Pauzal Bahri Pembuat Kaki Buatan yang Terinspirasi Tom and Jerry

Tebing Kampung Koja, Cocok buat Selfie dan Ngabuburit

Menelesurui Perjalanan Cheng Ho (1) : Kampung Cheng Ho Jadi Taman Nasional

Next Post
Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Tour d’Baduy 2019: Nyerah di Tanjakan Langit, Tidur Tak Digigit Nyamuk

Tour d'Baduy 2019: Nyerah di Tanjakan Langit, Tidur Tak Digigit Nyamuk

Raja Wei

Raja Wei

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

Sabtu, 13 Juni 2026 17:18
E PKK

Jadi Percontohan Penyangga IKN, Diskominfo Tangsel: E-PKK Bukan Sekadar Administrasi Digital

Sabtu, 13 Juni 2026 16:50
Intan Dorong Penguatan Kolaborasi untuk Majukan Sektor Perikanan dan Peternakan di Tangerang

Intan Dorong Penguatan Kolaborasi untuk Majukan Sektor Perikanan dan Peternakan di Tangerang

Sabtu, 13 Juni 2026 15:33
Simpan Sabu Dalam Kemasan Permen dan Sedotan, Polisi Tangkap Pengedar di Cilegon

Simpan Sabu Dalam Kemasan Permen dan Sedotan, Polisi Tangkap Pengedar di Cilegon

Sabtu, 13 Juni 2026 15:26
Bawaslu Laksanakan Pengawasan Coktas Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan

Bawaslu Laksanakan Pengawasan Coktas Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan

Sabtu, 13 Juni 2026 15:21
Pembangunan Serang Convention Center Butuh Rp230 Miliar, Diproyeksi Jadi Sumber PAD Baru

Pembangunan Serang Convention Center Butuh Rp230 Miliar, Diproyeksi Jadi Sumber PAD Baru

Sabtu, 13 Juni 2026 14:46
Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

Sabtu, 13 Juni 2026 17:18
E PKK

Jadi Percontohan Penyangga IKN, Diskominfo Tangsel: E-PKK Bukan Sekadar Administrasi Digital

Sabtu, 13 Juni 2026 16:50
Intan Dorong Penguatan Kolaborasi untuk Majukan Sektor Perikanan dan Peternakan di Tangerang

Intan Dorong Penguatan Kolaborasi untuk Majukan Sektor Perikanan dan Peternakan di Tangerang

Sabtu, 13 Juni 2026 15:33
Simpan Sabu Dalam Kemasan Permen dan Sedotan, Polisi Tangkap Pengedar di Cilegon

Simpan Sabu Dalam Kemasan Permen dan Sedotan, Polisi Tangkap Pengedar di Cilegon

Sabtu, 13 Juni 2026 15:26
Bawaslu Laksanakan Pengawasan Coktas Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan

Bawaslu Laksanakan Pengawasan Coktas Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan

Sabtu, 13 Juni 2026 15:21
Pembangunan Serang Convention Center Butuh Rp230 Miliar, Diproyeksi Jadi Sumber PAD Baru

Pembangunan Serang Convention Center Butuh Rp230 Miliar, Diproyeksi Jadi Sumber PAD Baru

Sabtu, 13 Juni 2026 14:46

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

Haflatul Qur’an ke-6 Al-Izzah Serang, Cetak Generasi Qurani Berkarakter

by Yusuf Permana
Sabtu, 13 Juni 2026 17:18

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Yayasan Al-Izzah Serang menggelar Haflatul Qur'an ke-6 Tahun Pelajaran 2025/2026 dengan penuh khidmat dan rasa syukur, Sabtu...

E PKK

Jadi Percontohan Penyangga IKN, Diskominfo Tangsel: E-PKK Bukan Sekadar Administrasi Digital

by Agung S Pambudi
Sabtu, 13 Juni 2026 16:50

CIPUTAT,RADARBANTEN.CO.ID–Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyampaikan transformasi digital di tingkat dasar bukan lagi sekadar pilihan, melainkan...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak