• Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
Home Berita Utama Sosial Budaya

Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Bupati Tidak Harus Anak Bangsawan

Aas Arbi by Aas Arbi
Sabtu, 6 April 2019 17:21
in Sosial Budaya
Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Bupati Tidak Harus Anak Bangsawan

Bangunan OSVIA yang kini difungsikan sebagai kantor Polres Serang. OSVIA Serang didirikan 1908 sebagai sekolah para calon pamong praja pemerintah kolonial Belanda. FOTO: DOK. KITLV.NL

Sekolah pangreh praja berdiri. Reformasi birokrasi pun diberlakukan. Pejabat bupati tidak selalu harus darah biru (bangsawan) atau trah pejabat tinggi.

RelatedPosts

Hari Santri Nasional 2026 Banten

Diikuti 2.500 Peserta, Kemenag Banten Luncurkan Hari Santri 2026 Lewat Jalan Santai Sarungan

Senin, 19 Oktober 2026 09:31
Kapolri Listyo Sigit Prabowo

Kapolri Resmikan Balai Latihan Silat PTBI, Dorong Pelestarian Budaya Banten

Sabtu, 19 September 2026 08:51
Alfamart

Alfamart dan Kalbe Nutritionals Perkuat Dukungan 1.000 HPK melalui Sahabat Posyandu, Jangkau 2.800 Penerima Manfaat

Jumat, 18 September 2026 14:00
Milad BAZNAS Kabupaten Serang

BAZNAS Kabupaten Serang Salurkan 100 Tangki Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Selasa, 15 September 2026 14:57

KEN SUPRIYONO – Serang

Bandul jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Selasa (2/4) siang. Lalu lalang kendaraan cukup padat melintas di Jalan Ahmad Yani, Cipare, Kota Serang. Tempat Markas Polres Serang berdiri. Gedung yang sebelum tahun 1949 dijadikan pusat pendidikan calon pegawai pemerintah Kolonial Belanda.

Di pelataran Mapolres Serang, beberapa calon anggota polisi berbaris rapi. Mereka tengah mengikuti pengarahan tes seleksi calon anggota Polri. Pengarahan itu tepat di depan halaman aula Polres Serang. Ruangan yang pada era 1900-an dijadikan ruang utama pendidikan pangreh praja. Tepatnya, setelah pada 5 Oktober 1908 gubernur jenderal mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1, pendirian Opleidingen School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai pada zaman Hindia Belanda.

Teriknya cuaca Serang terekam dalam dokumen notulensi pendirian OSVIA. Catatan yang menunjukkan silang pendapat atas pendirian sekolah tersebut. Udara yang panas jadi dalih kelompok yang kontra untuk menolak pendirian OSVIA di Serang. Juga dalih masyarakat Serang yang homogen dan mayoritas petani. Pandeglang dan Bogor jadi alternatif pilihan.

Dalam perjalanannya, alasan itu tak cukup kuat untuk mewujudkan pendirian OSVIA di Serang. Pertimbangan politis lebih dikedepankan. Serang adalah ibukota Residen Banten. Pusat kota yang banyak ditinggali keluarga pejabat kolonial.

Catatan sejarah pendirian OSVIA, kata sejarawan Banten Mufti Ali, diawali proses panjang dengan studi kelayakan. Juga perdebatan alasan pemilihan lokasi. Silang pendapat terlihat dari dokumen seperti notulensi rapat, dengar pendapat dengan Raad van Nederlanlansch-Indie dari Direktur Pertanian, catatan Departemen OEN, dan catatan dari Dinas Pemerintahan Dalam negeri.

“Saya memilki kesan bahwa keputusan untuk membangun OSVIA di Serang cukup alot,” kata Mufti.

Penulis buku Banten dan Pembaratan Sejarah Sekolah 1833-1942 menyebut, masa itu, biaya OSVIA sepenuhnya ditanggung pemerintah kolonial. Ada enam lokasi di seluruh Indonesia (Hindia Belanda). Yakni, Serang, Bandung, Magelang, Madiun, Blitar, dan Probolinggo.

Siswa OSVIA tidak hanya dari Serang. Pada surat resmi 27 Mei 1910 gubernur jenderal yang Mufti simpan salinannya menyebut, meminta agar calon siswa dari Lampung dan Palembang dapat diterima OSVIA di Serang. Permintaan lain, penggunaan bahasa Jawa Serang sebagai bahasa pengantar dan bantuan subsidi untuk pesta pembukaan sekolah.

Bahkan dalam dokumen lain, ada surat pemerintah kolonial yang mengizinkan satu orang Aceh atas nama Teuku Bahron. Juga dua orang Kalimantan Barat atas nama Urai Muhsin dan Urai Abu Bakar untuk masuk OSVIA di Serang.

Sebagai sekolah calon pangreh praja, siswa OSVIA mendapat pelajaran berbagai disiplin ilmu. Mulai dari ilmu pemerintahan, hukum, bahasa Belanda, ilmu ukur tanah, dan ukur permukaan air. Lalu, pembuatan garis dan peta hingga pengetahuan alam dan ilmu pertanian.

Menurut peneliti Banten Heritage Dadan Sujana, siswa-siswa OSVIA dididik sangat disiplin. Direktur sekolah dan pengajarnya tidak hanya memantau siswa mengerjakan tugas. Akan tetapi, ketepatan siswa dalam menyelesaikannya. Termasuk pengawasan secara ketat kehidupan asrama siswa. “Belanda masa itu sangat terencana dan terarah,” katanya.

Pendirian OSVIA tidak lepas dari kebutuhan Pemerintah Belanda, tetapi memanfaatkan sistem aristokrasi yang ada dari keluarga bangsawan untuk menjalankan administrasi kolonialnya. Sifat eksklusif golongan sosial dijaga. Caranya, dengan memberikan jabatan-jabatan yang tinggi hanya kepada para kerabat raja saja. Lalu, menunjukkan hubungan kekerabatan tersebut sebagai syarat siswa sekolah untuk pegawai pangreh praja.

Lantaran itu, Dadan menduga, banyak bupati masa itu yang sebenarnya kalangan masyarakat biasa. Namun, setelah Belanda mengangkatnya sebagai pejabat, yang bersangkutan mengubah namanya dengan tambahan gelar.

Kata Dadan, banyak bupati di Banten yang mengaku berasal dari keturunan Siliwangi dan Sultan Banten. Padahal, asal muasal tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan. “Di Banten sangat sedikit para bupati yang dari Banten, kebanyakan dikirim dari Priangan,” katanya.

Seiring perubahan yang terjadi, pemerintah Hindia Belanda melakukan reformasi di bidang birokrasi. Pada tahun 1915, prinsip pewarisan jabatan dihapuskan. Alasannya, tidak sesuai lagi dengan birokrasi modern.

“Sistem ini membuat seseorang untuk menjadi bupati tidak harus dari kalangan bangsawan,” katanya.

     Pandangan Dadan dipertegas tulisan Usmeadi dalam buku Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi untuk Pangreh Praja Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Serang Banten tahun 1900-1927. Ia menyebut, pemerintah Hindia Belanda menerapkan peraturan baru, seorang calon bupati harus memenuhi syarat-syarat seperti cakap, rajin, loyal, mampu berbicara bahasa Belanda. Tidak harus keturunan seorang bupati, dan telah menjadi wedana atau patih minimal dua tahun serta pendidikan minimal lulusan OSVIA. (Tulisan kedua dari tiga tulisan/bersambung)

Tags: feature
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

KPU Lebak Mulai Distribusikan Surat Suara ke 28 Kecamatan

Next Post

Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Next Post
Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Kesepian, Janda Jadi Pelarian

Polresta Tangerang

Polda Banten Tegaskan Kapolresta Tangerang Tidak Ditahan Mabes Polri

Senin, 26 Oktober 2026 15:42
Rifa Imaroh dari Tirtayasa Masuk 10 Besar Finalis SATU Indonesia Awards 2026

Rifa Imaroh dari Tirtayasa Masuk 10 Besar Finalis SATU Indonesia Awards 2026

Senin, 26 Oktober 2026 11:38
Operasi patuh maung 2026

Hari Pertama Operasi Patuh Maung 2026, Polresta Tangerang Sasar Jalan Dekat Puspemkab Tangerang

Senin, 26 Oktober 2026 17:47
Fungsional Kehumasan DPRD Pandeglang Alih Tugas ke Kementerian Haji dan Umrah, Wakil Bupati Angkat Bicara 

Fungsional Kehumasan DPRD Pandeglang Alih Tugas ke Kementerian Haji dan Umrah, Wakil Bupati Angkat Bicara 

Senin, 26 Oktober 2026 11:18
Subadri Ushuludin

Subadri Disorot, Kuasa Hukum PPP Banten Singgung Etika Usai Pemberhentian

Senin, 26 Oktober 2026 17:41
Operasi Patuh Maung

Polda Banten Mulai Gelar Operasi Patuh Maung 2026, Ini Sasarannya

Senin, 26 Oktober 2026 14:35
Pemkab Pandeglang dan Lebar Sepakati Bats Wilayah

Cegah Konflik Sosial, Pandeglang dan Lebak Sepakati Batas Wilayah

Senin, 26 Oktober 2026 12:44

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Harry Kane Sabet Ballon d’Or 2026 Singkirkan Mbape, Yamal Hingga Messi

Harry Kane Sabet Ballon d’Or 2026 Singkirkan Mbape, Yamal Hingga Messi

by Nurabidin
Selasa, 27 Oktober 2026 10:14
0

Harry Kane (harrylane/ig)

Mantan Wakajati Banten Yuliana Sagala Tutup Usia

Mantan Wakajati Banten Yuliana Sagala Tutup Usia

by Fahmi
Selasa, 27 Oktober 2026 10:07
0

Yuliana Sagala (Instagram)

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2026 RadarBanten.