Musibah kecelakaan yang merenggut kaki kirinya, menjadikan Pauzal Bahri bisa menorehkan berbagai prestasi. Lantaran, ia mampu membuat sebuah inovasi kaki buatan dari serabut kelapa.
AWALNYA sempat frustrasi, atas peristiwa kecelakaan yang dialaminya pada tahun 2005 silam. Pria asal Lomboktimur, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut sempat kehilangan semangat hidup. Apalagi, ia tak memiliki biaya untuk membeli kaki buatan kala itu.
Maklum saja, Pauzal Bahri bukan berasal dari kalangan keluarga ekonomi mapan. Orangtuanya hanya petani.
Tentunya membeli kaki palsu hanyalah mimpi dan jauh dari angan. Dengan keadaan yang sulit tersebut,
tepatnya tahun 2006. terbesit ide, untuk membuat kaki palsu. Inspirasi itu didapat setelah menonton tayangan film kartun Tom and Jerry dalam adegan bajak laut. Dimana dalam cerita film tersebut, Tom kehilangan kaki karena berkelahi dengan Jerry. Dan kemudian Tom menyambung kakinya dengan sebuah pipa besi.
Pauzal lantas melakukan percobaan demi percobaan, kurang lebih selama dua minggu dengan bahan pipa. Hasilnya cukup memuaskannya, sebab ia bisa berdiri dengan sempurna dengan bertumpu kedua kakinya.
”Jadi, saya mencoba-coba terus melakukan perakitan sampai bisa digunakan untuk berjalan,” katanya saat membuka percakapan dengan Radar Banten di pameran Inovasi Teknologi ASEANIn dia di Puspiptek, Kamis (27/9).
Pauzal menerangkan, eksperimen untuk bisa menghasilkan kaki palsu, membutuhkan waktu selama tiga tahun. Tujuannya, untuk memberikan kenyamanan, saat penggunanya memakai kaki palsu buatannya. ”Penyempurnaannya jadi hal penting untuk kenyamanan pengguna, sedangkan waktu bekerja di kerjakan di sebuah bengkel mobil pembuatan bemper,” ucapnya.
Inovasinya tak berhenti sebatas pipa, dari pipa, Pauzal mulai beralih ke fiber. Namun ada kendalanya yakni diketahanan. Pertama dicampur serat dari batang pisang, hasilnya kurang memuaskan. Kemudian, batang bambu tali, begitu juga. Dan akhirnya, serabut kelapa barulah hasilnya optimal. ”Dengan serabut kelapa ketahanannya kuat dan kelenturannya tak menyiksa penggunanya,” jelas peraih juara tiga lomba inovasi teknologi tepat guna tingkat nasional tahun 2016 itu.
Sejak penemuannya dikenal publik. Tepatnya, tahun 2010, Pauzal menerima jasa bantuan membuatkan kaki sambung bagi yang membutuhkannya. ”Alhamdulillah, sekarang dalam sebulan bias dapet orderan enam buah. Paling lama, satu kaki sambung bisa habis waktu dua hari untuk lama pengerjaannya,” tuturnya.
Tak hanya membuat kaki palsu, Pauzal juga memberikan motivasi untuk para difabel. Supaya bisa berani berjuang untuk kehidupannya. ”Falsafah saya,hidup untuk orang hidup dan sang pemberi hidup. Hidup akan terasa lebih hidup, jika bermanfaat untuk orang lain karena itulah yang benar-benar hidup,” tukasnya. (WAHYU SYAIFULLAH)









