PANDEGLANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mencatat, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (riskesdes) tahun 2018, sebanyak 8.203 warga menderita stunting atau gangguan pertumbuhan. Penyebab hal itu, di antaranya akibat kurangnya asupan gizi makanan pada usia kandungan.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Pandeglang Eni Yati mengakui, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah penyumbang stunting terbesar di Provinsi Banten. “Kita menjadi daerah yang paling banyak kena stunting. Makanya kita akan fokus menangani persoalan itu,” katanya usai acara pencanangan aksi cegah stunting di salah satu hotel di Pandeglang, kemarin.
Hadir di acara tersebut, Bupati Irna Narulita, Asda Bidang Administrasi Umum (Adum) Undang Suhendar, Kepala Dinkes Raden Dewi Setiani, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kurnia Satriawan, dan perwakilan pegawai di lingkungan Pemkab Pandeglang.
Menurut Eni, persoalan tersebut dapat diselesaikan, apabila semua instansi pemerintahan bekerja sama dan memperhatikan asupan gizi makanan bagi ibu hamil di Pandeglang. “Untuk mengatasinya kita rembug stunting, bermusyawarah dengan instansi lain secara konvergensi dan bergerak bersama sesuai tupoksinya masing-masing. Masyarakat harus tahu apa itu stunting sebagai bentuk pencegahan,” katanya.
Eni berharap semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bisa bekerja sama dengan baik, agar persoalan stunting di Pandeglang dapat teratasi. “Semua OPD akan membuat perencanaan kegiatan cegah stunting. Kita akan adakan kampanye agar masyarakat tau tentang pencegahan stunting. Kegiatan secara sasaran primer dengan intervensi spesifik oleh Dinas Kesehatan dan sensitif oleh OPD lain yang mendukung penurunan stunting,” katanya.
Ditemui usai acara tersebut, Bupati Irna Narulita mengatakan, persentase stunting di Kabupaten Pandeglang cukup tinggi yakni mencapai 38,5 persen. Dia yakin, persoalan itu bisa terselesaikan, apabila semua pihak terkait komitmen dan bekerja sama. “Kalau kita komitmen, dalam satu tahun ke depan bisa turun 10 persen penderita stunting di Pandeglang,” katanya.
Irna berjanji akan terus melakukan berbagai upaya agar persoalan stunting di Kabupaten Pandeglang bisa segera terselesaikan.
“Kita terus berupaya, semua simpul harus dapat membantu untuk dapat menurunkan angka stunting di Pandeglang, karena dalam menyelesaikan persoalan stunting memang tidak dapat secara instan. Namun, kita tetap perkuat, kita sisir semuanya, bekerja secara masif dari tingkat desa melalui para kader, Puskesmas dan kecamatan. Sehingga, insya Allah di 2022 kita bebas stunting,” katanya. (dib/zis)










