CILEGON – Polisi belum dapat memastikan kematian Ratna Simanjuntak (50) pada Selasa (27/8) lantaran dibunuh. Soalnya, polisi masih menggali keterangan dan menunggu hasil autopsi jasad warga Pondok Cilegon Indah (PCI), Blok D58, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon ini.
“Belum ada perkembangan, keterangan masih sama dengan yang kemarin (Selasa, 27/8),” kata Kasat Reskrim Polres Cilegon Ajun Komisaris Polisi (AKP) Zamrul, Rabu (28/8).
Zamrul mengaku sudah ada 10 orang saksi yang diperiksa. Salah satunya, Veronica, anak korban. Kepada petugas, Veronica mengaku tidak mengetahui peristiwa yang menyebabkan ibunya tewas dengan bersimbah darah. “Dia tahunya pas turun sudah terkapar,” tutur Zamrul.
Kemarin, pantauan Radar Banten, petugas masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi terlihat keluar masuk rumah toko (ruko) dengan lebar sekira 15 meter tersebut. Seorang polwan terlihat membawa pakaian dalam plastik berwarna merah dari dalam ruko.
Ratna pertama kali ditemukan putrinya, Veronica, sekira pukul 09.15 WIB. Perempuan berusia 23 tahun itu mendapati tubuh korban saat hendak turun dari lantai dua ruko yang menjual kebutuhan-kebutuhan pokok.
Veronica melihat tubuh ibunya terkapar bersimbah darah di pintu gudang bagian kanan ruko. Darah berceceran tepat dibagian pintu yang terbuat dari kaca, dan dilapisi oleh rolling dor. Tak jauh dari tubuh Ratna ditemukan sebilah pisau dapur.
Kondisi itu pun membuat Veronica terkejut, sambil memapah tubuh ibunya, menjerit sekuat-kuatnya, meminta tolong pada tetangga yang tinggal disekitar rumah tersebut. Mengetahui hal itu, warga langsung datang, Veronica terlihat mencoba menahan tubuh ibunya dengan posisi terduduk.
Terpisah, Kepala Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RS dr Dradjat Prawiranegara Budi Suhendar mengaku, penyebab matinya korban disebabkan luka terbuka di leher. “Luka terbuka leher, kemungkinan karena pendarahan di leher,” kata Budi.
Selain di leher, korban juga mengalami luka terbuka di bagian perut. Luka itu disebabkan kekerasan tajam dan tumpul. “Kekerasan campuran ya dua-duanya. Akibat kekerasan tajam dan tumpul,” kata Budi. (bam/nda/ags)









