SERANG – Berdasarkan hasil sosialisasi, jumlah warga yang terdampak program reaktivasi rel kereta Rangkasbitung-Labuan segmen satu yakni Rangkasbitung-Pandeglang bertambah. Awalnya, tim memperkirakan jumlah warga yang terdampak reaktivasi kereta hanya 900 keluarga. Namun, pada sosialisasi beberapa hari lalu ditemukan jumlah warga yang terdampak bertambah 200 keluarga, sehingga menjadi 1.100 keluarga.
Diketahui, jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan sepanjang 56,5 kilometer akan diaktifkan kembali. Berdasarkan sosialisasi, ada sekira 1.100 keluarga yang tinggal di segmen pertama sepanjang 18,7 kilometer. Sementara, di segmen dua yakni Pandeglang-Labuan sepanjang 37,7 kilometer belum terdata.
Kepala Biro Bina Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Provinsi Banten Nana Suryana mengatakan, pihaknya kembali akan melakukan pendataan untuk kepastian jumlah warga yang terdampak. “Nanti pastinya setelah pendataan,” ujar Nana, Minggu (29/9).
Pria yang juga merupakan sekretaris tim terpadu yang menangani reaktivasi ini mengatakan, pada perkiraan pertama di Juli lalu di beberapa desa yang sudah dilakukan sosialisasi dan verifikasi ada 700 keluarga yang terdampak reaktivasi di segmen satu. Namun, saat kembali dilakukan sosialisasi tahap kedua, ada penambahan 400 keluarga. Sedangkan untuk segmen dua diperkirakan ada sekira 200 keluarga.
Kata dia, pendataan yang valid akan dilakukan agar tidak ada masyarakat yang terlewat. Kalau proses pendataan dan verifikasi sudah selesai maka tahap selanjutnya adalah penyusunan nilai kompensasi.
Namun, ia mengaku tak mengetahui alokasi dana kompensasi yang disediakan karena hal itu sepenuhnya menjadi kewenangan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta-Banten. Untuk menghitung kompensasi, akan ada tim independen dari Kantor Jasa Penilai Publik.
Nana mengatakan, tak hanya kompensasi untuk menggantikan bangunan, tetapi pemerintah juga menyiapkan biaya untuk pengangkutan barang dan sewa tempat tinggal sementara. “Nanti biaya sewanya disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Setidaknya bisa untuk bertahan sampai tempat tinggalnya yang baru jadi, tapi tidak lama-lama, mungkin maksimal satu tahun,” tuturnya.
Selain itu, ia mengatakan, para pemilik bangunan juga diperbolehkan membawa material bangunan milik mereka yang masih layak. “Boleh nanti mereka bawa, misalnya besi-besi atau sebagainya,” terang Nana.
Kata dia, untuk proses pengerjaan sendiri baru dilakukan jika pembagian kompensasi telah selesai. Tahap awal pengerjaan adalah proses land clearing atau pembersihan jalur yang kini banyak beralih fungsi menjadi bangunan. Sementara pengerjaan konstruksi dijadwalkan dimulai pada 2020.
Sebelumnya, Sekda Banten Al Muktabar mengatakan, tempat tinggal dan bangunan di jalur kereta api akan ditertibkan setelah proses pendataan dan verifikasi selesai. Diharapkan kegiatan reaktivasi itu berjalan sesuai target. (nna/alt/ags)








