Maklumlah, sejak muda, Siti memang suka bergaul dan berpenampilan modis. Ia berasal dari keluarga lumayan berada, tapi semenjak menikah, orangtuanya memang melepas Siti sepenuhnya dan memercayakan kepada Joko.
Tapi, Joko setiap akhir pekan, pasti selalu keluar karena ada bisnis lain yang dijalani di bidang pertanian. Selain jadi karyawan, diaengolah lahan sawha peninggalan bapaknya di Pandeglang.
Siti selalu menolak diajak ke sawah, ia lebih baik memilih diam di rumah daripada ikut suami ke Pandeglang. “Capek, terus ngurus anak juga kan, ribet,” katanya.
Maka dari itu, Siti mencari pelarian dengan main arisan. Sementara Siti di tempat arisan, biasanya ia menitipkan anaknya ke keponakan ditinggal seharian.
Minggu ini ke arisan ibu-ibu PKK, minggu depannya ke arisan ibu muda, minggu depannya ke ibu-ibu gaul yang suaminya berpenghasilan puluhan juta, begitu terus setiap minggu.
Setahun kemudian Joko ngamuk, tabungan keperluan darurat yang disimpan Siti ludes, sedangkan arisan tak juga dapat dan masih berlangsung lama. Alhasil, uang penghasilan Joko perbulan pun jadi korban. “Soalnya arisannya yang jangka waktunya setahun, ada juga yang sampai tiga tahun,” katanya. Astaga.
Joko yang terlanjur emosi mengamuk. Ia pun sempat tak pulang seminggu. Siti yang malang mengemis mohon ampun, untung Joko lelaki pemaaf. “Akhirnya kita pinjem uang ke saudara, pas dapet arisannya langsung dibuat bayar utang,” katanya. (drp/alt)










