Anah mengungkapkan, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti sebagian besar terjadi pada warga perumahan. Akibat dari genangan air yang menjadi sarang nyamuk. “Faktor utamanya cuaca dan kondisi lingkungan (saluran air) yang tidak terawat,” terangnya.
Anah mengungkapkan, beberapa langkah yang dilakukan pihaknya yakni dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat, serta abatesasi. “Genangan air yang berada di rumah dan lingkungan menjadi tempat berkembang biak jenis nyamuk ini,” terangnya.
Kepala Dinkes Kota Serang Ahmad Hasanuddin membenarkan jika di awal tahun 2021 terjadi lonjakan kasus DBD di Kota Serang. Namun, demikian dari banyaknya temuan kasus tak ditemukan kasus meninggal dunia. “Yang meninggal mah belum ada,” katanya.
Untuk mengantisipasi penyakit DBD di Kota Serang, Hasanuddin mengaku telah menyebarkan abate dan PSN. Dia juga mengimbau, agar masyarakat bersama bergotong royong membersihkan saluran air yang mampet. “Bila perlu tampungan air dihilangkan dulu,” terangnya.
Hasanuddin akan menerjunkan petugas ke lapangan untuk memastikan agar masyarakat terhindar dari DBD. “Apakah ada jentik, kalo ada baru disemprot, yang paling murah itu PSN, kalo diasap biayanya mahal dan polusi,” katanya. (nna-fdr/alt)











