Untuk menuju gua atau bungker tersebut kita harus melewati tangga yang dibuat dari bahan yang sama untuk menuju ke bungker. Lokasi bungker yang terlalu rendah dan tepat di dinding sungai hanya dapat digunakan dan dilihat ketika air sedang surut.
Kondisi gua atau bungker saat ini tidak terlalu terawat. Dinding bangunan ditumbuhi lumut dan jamur. Jejak vandalisme juga ditemukan di dinding bungker, berupa goresan tulisan huruf latin.
Keempat, Gedung Juang 45. Bangunan ini pada masa pendudukan jepang pernah dijadikan sebagai markas kempetai. Sebuah pristiwa besar pernah terjadi di gedung markas kempetai, kemudian diambil alih oleh tentara keamanan rakyat (TKR) yang dibentuk oleh KH Syamaun.
Setelah berhasil merebut dan mengusir tentara jepang melalui sebuah pertempuran hebat pada tanggal 10 Oktober 1945. Pada peristiwa itu markas Kempetai berhasil diduduki oleh para pejuang Banten.
Bangunan markas kampetai terdiri dari tiga bangunan utama dan kini yang masih memperlihatkan keasliannya tinggal satu bangunan, yaitu yang sekarang dipakai sebagai Kantor Dewan Harian daerah (DHD) 45.
Bangunan ini mempunyai seni arsitektur bergaya Indis. Atap bangunan berbentuk joglo dan memiliki sudut lancip ditl tengahnya dengan konstruksi kayu gentingnya terbuat dari tembikar berwarna coklat.
Adapun dua bangunan lainnya, saat ini unsur keasliannya sudah tidak tampak lagi. Kedua bangunan tersebut kini dipakai sebagai Perpustakaan Kota Serang.
Kelima, Karesidenan Banten. Karesidenan Banten berada pada jalan KH Syam’un, Kota Serang. Gedung Karesidenan Banten dibangun sekira 1814. Gedung Karesidenan Banten adalah salah satu hasil karya arsitek bangsa Eropa yang menetap di Banten.
Kantor Gubernur Banten yang kini menjadi Museum Negeri Banten merupakan kumpulan beberapa bangunan yang mencirikan tinggalan kuno serta memilik sejarah yang panjang.
Bangunan yang berdiri sekira 1814 tersebut awalnya berfungsi sebagai Kantor Residen Banten, dengan residen I yakni J. De Bruijn (1817 – 1818).
Keenam, Masjid Kenari. Masjid ini terletak di Kampung Kenari kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang (Kota Serang), Provinsi Banten. Masjid Kenari bisa ditempuh dengan jarak, 6 kilometer dari Kota Serang atau sekira 3 kilometer dari Mesjid Agung Banten.
Tidak terdapat catatan yang jelas tentang tahun berdirinya, hanya saja data yang ada menyatakan bahwa Masjid Kenari dibangun saat pemerintahan Sultan Abu Mufachir Abdul Kenari (1596-1651 Masehi).
Ketujuh, Gapura makam Kenari. Seperti masjid tradisional di Jawa pada umumnya, yang mana terdapat makam di area masjid. Demikian pula dengan Masjid Kenari ini, terdapat kompleks makam di area masjid.
Kedelapan, temuan makam kuno. Temuan komplek makam kuno ini berasal dari masa Islam yang diduga semasa dengan makam kuno Islam yang berada di makam Kenari.











