Hari berikutnya, dari dalam kamarnya, May melihat lampu ruang tengah rumah yang dia sewa padam dan menyala sendiri. Dia mendengar suara sakelar lampu ruang tengah seperti dibuat mainan.
Cetak..cetek..cetak..cetek…
May melihat jam di tangan kirinya. “Jam delapan malam,” gumamnya.
May keluar dari kamarnya. Dia mencari di setiap ruangan. Tidak ada siapa-siapa.
Namun, kejadian-kejadian aneh kembali terjadi pada hari-hari berikutnya. May diganggu sosok tak kasatmata.
Yang paling menyeramkan, ketika May melihat laci meja riasnya terbuka sendiri, jendela kamarnya diketuk-ketuk dari luar, sampai pintu kamarnya digedor-gedor.
Kejadian itu terus berulang. Dari tengah malam sampai menjelang subuh. May pingsan.
May lalu mencari tahu tentang peristiwa yang dialaminya. Dia baru mendapatkan jawaban setelah konsultasi dengan Abah Mul, paranormal di wilayah Banten Kidul.
” Sorangan diganggu ku mahluk halus awewe, wujudna noni-noni Belanda. Maneh ker deket jeng lalaki ?” tanya Abah Mul.










