LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak akan memiliki mobil water treatment alias mobil pendaur ulang air bersih. Mobil itu nantinya akan memproses air kotor menjadi air bersih yang layak untuk dikonsumsi.
Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizki Pratama mengatakan, jika mobil itu saat ini tengah dalam proses lelang di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Adapun nilai dari mobil itu setara harga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yakni Rp463.170.000.
“Ya sekarang sedang proses lelang kembali, karena kemarin tendernya sempat diulang. InyaAllah bulan Oktober nanti sudah serah terima,” kata Febby kepada Radar Banten, Senin (26/9).
Febby mengatakan, mobil water treatment (WTM) ini menjadi urgerensi dan sangatlah penting dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Lebak. Sebab, lokasi pengungsi kadang jauh dari sumber air. Sementara jika menggunakan mobil tangki itu kapasitasnya terbatas.
” WTM bisa digunakan dari sumber air kotor sekalipun untuk diproduksi menjadi air bersih, sehingga waktu jeda dalam penanganan pengungsi bisa dikurangi,” ujarnya.
“Mobil water treatment ini direncanakan akan memenuhi kebutuhan air yang kayak di minum pada lokasi pengungsian,” tambahnya.
Ia menjelaskan, kendaraan water treatment ini mampu mengolah sebanyak 2.000 liter air kotor menjadi air yang siap diminum dalam setiap jamnya. Dengan mobil tersebut, sumber air layak konsumsi untuk warga di pengungsian akan teratasi.
“Pemerintah cuma punya 5 mobil suplay air, 3 BPBD dan 2 milik Damkar. Kalo bencana, yang digunakan 3 itu aja. Lainnya kan standby untuk fungsinya masing-masing, sehingga masing kurang jika untung menghadapi kekeringan maupun untuk suplay. Mobil tangki air juga harus ambil air bersih, nah sedangkan WTM mah air kotor aja bisa diolah jadi air bersih. Sehingga nanti bisa sangat efektif sekali untuk penanggulangan bencana,” jelasnya.
Menurutnya, sumber air bersih sendiri merupakan suatu yang harus diperhatikan. Sebab air adalah sumber kehidupan. Jika airnya kotor, maka dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan para korban di pengungsian.
“Selama ini memang yang menjadi PR kita ketika ada pengungsian korban bencana adalah sumber air. Tapi semoga dengan adanya WTM ini maka PR itu dapat terpecahkan, dan para korban bencana di pengungsian bisa mendapatkan sumber air yang latak,” pungkasnya. (adv)











