Mendengar teriakan korban meminta tolong, temannya langsung datang menghampiri. Kemudian melihat ke arah muara ternyata seekor buaya besar tengah menggigit korban.
“Selanjutnya temen korban meminta pertolongan kepada warga setempat. Kurang lebih sebanyak 10 orang datang membantu memberikan pertolongan dengan alat seadanya,” katanya.
Upaya warga membuahkan hasil, korban dapat terlepas dari gigitan buaya. Kemudian korban langsung dievakuasi ke Puskesmas Sumur untuk dilakukan pertolongan medis.
“Atas kejadian tersebut korban mengalami luka robek bagian lengan kiri kurang lebih 30 centimeter dan mengalami patah tulang. Luka robek lengan kanan kurang lebih 10 centimeter dan 13 centimeter dan mengalami patah tulang,” katanya.
Kemudian mengalami luka robek pada bagian bahu kanan kurang sepanjang 15 centimeter dan mengalami patah tulang. Luka robek bagian betis kiri kurang lebih sepanjang 3 centimeter dan 4 centimeter.
“Lalu Luka robek pada bagian pinggang sebelah kiri kurang lebih sepanjang 5 centimeter,” katanya.
Nelayan dan juga selaku Ketua RT 03 RW 04 Kampung Ketapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Ruyadinata mengatakan, dari informasi diterima olehnya nyawa korban terkaman buaya mengalami banyak luka robek dan patah tulang masih bisa diselamatkan.
“Keberadaan buaya di Muara tentu sangat meresahkan. Harapannya dapat segera ditangkap karena khawatir ada korban lain,” katanya.
Ruyadinata menegaskan, bahwasannya peristiwa warga diterkam buaya sebetulnya bukan hal pertama kali. Kejadiannya sudah sering kali terjadi.
“Sebetulnya kalau dulu di muara itu enggak ada buaya. Enggak tahu kenapa sekarang ini ada buaya yang membuat kita ini menjadi resah juga,” katanya.
Adapun informasi beredar dikalangan warga dan nelayan, diungkapkan Ruyadinata, keberadaan buaya saat ini dikarenakan habitat menjadi tempat tinggalnya terganggu oleh aktivitas manusia. Di mana saat ini banyak membuka lahan dijadikan tambak udang.
“Yang saya tahu dulu buaya tempatnya di muara. Tapi sekarang mah di laut juga sering ada,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Ahmad Lutfi











