Tanda Keberkahan
Setiap Muslim dapat menggambarkan keberkahan haji dan keutamaannya secara rinci. Namun dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk mengundang umat Muslim untuk pergi haji, disebutkan hanya mereka yang melakukan haji yang bisa merasakan berkah sesungguhnya. Dalam QS Al-Hajj ayat 28 :
لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۖ فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ
“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
Imam Abu Hanifah, mengatakan :
“Tidak yakin ibadah mana yang lebih baik. Tapi begitu dia melakukan haji, dia tidak ragu-ragu menyatakan bahwa haji adalah yang paling utama dari semuanya.”
Berbeda dengan perjalanan biasanya, perjalanan haji sangat berbeda dari segi sifat. Umat Muslim yang berangkat haji tidak mencari tujuan pribadi, namun melakukannya semata-mata untuk Allah SWT dan pemenuhan tugas yang Dia tetapkan. Tak seorang pun siap untuk melakukan perjalanan ini, kecuali dia memiliki cinta kepada Allah SWT di dalam hatinya, serta takut kepada-Nya. Kesediaan seorang umat menanggung kekurangan yang timbul dari pemisahan dari keluarga, mengeluarkan biaya besar dalam perjalanan yang tidak akan membawa imbalan materi, serta menderita kerugian bisnis atau pekerjaan adalah tanda kualitas batin tertentu.
“Bahwa Anda mencintai dan takut kepada Allah SWT lebih dari segalanya, bahwa Anda memiliki rasa kewajiban yang kuat kepada-Nya, bahwa Anda bersedia untuk menanggapi panggilan-Nya dan siap untuk mengorbankan kenyamanan materi Anda di jalan-Nya.
Kecintaan kepada Allah disebut meningkat saat mulai mempersiapkan perjalanan haji, dengan satu-satunya tujuan untuk menyenangkan Allah. Dengan kerinduan hati untuk mencapai tujuan, seorang Muslim akan menjadi lebih murni dalam pikiran dan perbuatan. Selama persiapan haji dan pelaksanaannya, setiap umat akan bertobat atas dosa-dosa masa lalu, mencari pengampunan dari orang-orang yang mungkin telah disakiti, sekaligus mencoba untuk memberikan hak kepada orang lain, jika diperlukan. Hal ini dilakukan agar nantinya saat pergi ke pengadilan Allah tidak dibebani dengan ketidakadilan, yang mungkin telah dilakukan terhadap sesama manusia semasa hidup.
Secara umum, kecenderungan untuk berbuat baik meningkat dan kebencian untuk berbuat jahat meningkat. Setelah meninggalkan rumah, semakin dekat dengan Rumah Allah, semakin kuat keinginan Muslim untuk berbuat baik. Perjalanan haji, yang berbeda dengan perjalanan lainnya, adalah perjalanan berkelanjutan dengan seorang Muslim mencapai pemurnian diri secara progresif. Dalam perjalanan ini, seorang Muslim merupakan peziarah kepada Allah. Selama dua atau tiga bulan, dari saat memutuskan dan mempersiapkan haji hingga saat kembali ke rumah, dampak yang luar biasa telah dibuat di hati dan pikiran para peziarah. Proses ini memerlukan pengorbanan waktu, uang, kenyamanan, serta keinginan dan kesenangan fisik. Semua ini didedikasikan untuk Allah, tanpa motif duniawi atau egois.
Dalam pelaksanaan haji, para peziarah menyaksikan setiap langkah jejak yang ditinggalkan oleh orang-orang, yang mengorbankan semua milik mereka dalam kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Mereka berperang melawan seluruh dunia, menderita kesulitan dan siksaan, dikutuk untuk dibuang, tetapi pada akhirnya membuat firman Allah menjadi yang tertinggi dan menaklukkan kekuatan palsu yang ingin manusia tunduk pada entitas selain Allah. Beberapa ciri keberkahan di antaranya :
Pertama, Orang yang dalam keberkahan, akan menyadari bahwa manusia tidak akan mendapatkan apapun tanpa pertolongan dari Allah. Kedua, orang yang dianugerahkan keberkahan dalam hidupnya akan mudah bersabar dalam menghadapi ujian. Ketiga, Orang yang hidupnya dalam keberkahan maka ia akan melaksanakan kebaikan secara konsisten sampai akhir hidupnya. Keempat, Tanda hidup mendapat keberkahan adalah merasakan kenikmatan dalam beribadah.
Demikianlah beberapa ciri orang yang hidupnya dalam keberkahan. Semoga sebagai manusia kita mampu menyukuri segala nikmat yang diberikan oleh-Nya sehingga menjadi berkah dalam hidup kita. Salah satu cara untuk menambah keberkahan hidup ialah dengan menunaikan sedekah. Dengan menunaikan sedekah, rezeki yang merupakan nikmat yang diberikan Allah pada hamba-Nya akan bertambah nilai kebaikannya ketika kita mampu membagikannya kepada orang lain terutama pada orang yang membutuhkan.
Sedangkan tanda keberkahan adalah manfaat yang berkelanjutan dan ketenangan hati serta kebahagiaan. Inilah salah satu hikmah yang menyebabkan Allah SWT memberikan balasan surga bagi haji yang mabrur.
Semoga Bermanfaat.

DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM, M.Sc adalah Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten/Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan dan Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.











