PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Stasiun Pandeglang kondisi rusak berat karena tidak terurus dengan baik.
Bangunan di Kelurahan Kadomas, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, itu merupakan salah satu peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda. Dan, tidak terurus.
Stasiun Pandeglang memang sudahnon aktif. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset Daops I Jakarta.
Secara geografis, Stasiun Pandeglang terletak pada lintas Rangkasbitung-Labuan.
Stasiun Pandeglang disebutkan dibuka tahun 1906. Operasi layanannya ditutup pada tahun 1982.
Lurah Kadomas, Djumrani mengatakan, di Desanya terdapat lima bangunan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda.
“Satu bangunan masuk cagar budaya, yaitu rumah Kepala Stasiun Pandeglang. Lalu ada bangunan Stasiun Pandeglang, cuma sudah tidak bisa digunakan lagi karena kondisinya rusak,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID di Stasiun Pandeglang, Selasa, 11 Juli 2023.
Dua bangunan lain peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda juga dalam kondisi rusak. Bangunan tersebut merupakan aset PT KAI.
“Masyarakat menginginkan agar PT KAI segera melakukan reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan. Khususnya jalur yang arah Stasiun Rangkasbitung ke Stasiun Pandeglang, karena sangat mendesak untuk kebutuhan transportasi warga,” katanya.
Djumrani mengungkapkan bahwa pada akhir tahun 2022 sudah ada laporan dari Pemerintah Pusat terkait reaktivasi jalur rel kereta api Rangkasbitung-Labuan.
Disebutkan, akan ada tim appraisal dari Surabaya yang akan turun melakukan penghitungan pada tahun 2023.
“Itu cerita dari Kementerian Perhubungan, tetapi hingga sekarang belum ada. Kalau jadi dilakukan reaktivasi, jumlah rumah kena dampak sebanyak 168 rumah,” katanya.
Mereka yang terkena dampak reaktivasi, katanya, sudah pada siap pindah. Saat ini mereka masih menunggu realisasinya.
“Ketika ada reaktivasi kereta, insya Allah mereka sudah siap pindah rumah dengan sukarela. Tetapi memang untuk bangunan sudah ada itu rencana akan diberikan dana kerohiman yang disesuaikan,” katanya.
Warga Kadomas, Imam, menyatakan bahwa rencana reaktivasi ini sudah digemborkan sejak puluhan tahun lalu.
“Tapi realisasinya enggak ada. Kalau pun ada, harusnya ada kebijaksanaan lah, jangan seenaknya saja, maunya begitu,” katanya.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan, kalau rencana reaktivasi sebetulnya sudah ramai sejak dirinya masih bujangan. Hingga sekarang belum ada realisasinya.
“Dari semenjak saya bujangan bahkan hingga sekarang saya punya anak umur 22 tahun, begini-begini saja. Ada isu, ada isu, isu dan isu terus saja, bilang mau ada pembongkaran tapi begini aja,” katanya. (*)
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agus Priwandono











