Dari bank sampah dijual kepada PD PBM. Kemudian, oleh PD PBM digiling lagi, diambil sampelnya.
“Kemudian diuji laboratorium, diuji lab di PT Indonesia Power. Sekarang kalorinya sudah hampir 4.600, padahal kalori tadinya hanya 2.900 enggak naik-naik, enggak putus asa tuh tim-tim kami dari PD PBM, ya akhirnya sekarang sudah mencapai 4.000 kalorinya dan Cilegon masih di bawah, laris manis tanjung kimpul, BBJP kita dibakar untuk pembangkit listrik untuk Jawa dan Bali,” katanya.
Direktur PD PBM, Zaenal Huri mengungkapkan, proses pengolahan sampah menjadi BBJP berstandar SNI yakni di atas 3.000 kalori membutuhkan waktu kurang lebih enam bulan.
“Setelah enam bulan lamanya kita melakukan trial dan error production sampah, pada hari ini kita sudah bisa melakukan pengiriman perdana BBJP untuk dipergunakan di PLTU Banten 2 Labuan. Untuk bahan bakar pengganti batu bara di pembakaran pembangkit listriknya mereka,” katanya.
Mudah-mudahan saja, dikatakan Zaenal, setelah ini pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produksinya.
Hari ini, kurang lebih dikirim 15 ton diangkut menggunakan lima kendaraan dump truck dari 40 ton permintaan sampai dengan akhir Agustus ini.
“Pada 1 September PLTU akan melakukan uji burning test BBJP kita yang parameternya sudah masuk berdasarkan standar SNI. Karena produksi BBJP kita didampingi terus dari PT Indonesia Power Pusat, kalau secara teknis analisis sudah layak dipakai tapi nanti kita lihat di pembangkitnya di mesin boilernya, apakah BBJP kita perlu perbaikan nanti kita lihat hasil dari burning test,” katanya. (*)
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agus Priwandono










