TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah di Tangsel tidak berdampak pada sektor pertanian. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Tangsel Yepi Suherman mengatakan, pertanian di Tangsel berkonsep urban farming.
“Pertanian di Tangsel itu urban farming, jadi pertanian itu di lahan-lahan terbatas, dipekarangan rumah menggunakan polybag, bioponik dan hidroponik,” ujar Yepi di kantornya, Rabu, 4 Oktober 2023.
Menurut Yepi, Tangsel tidak memiliki hamparan pertanian yang luas layaknya wilayah Pandeglang, Serang dan Lebak yang memang wilayahnya cukup luas dan memiliki hamparan pertanian, sehingga ketika terjadi kekeringan akan sangat berdampak pada sektor pertanian.
“Tangsel tidak memiliki hamparan luas pertanian seperti di Pandeglang, Serang dan Lebak, dan lagi pula pertanian di Tangsel tidak menggunakan olah tanah yang betul-betul harus menggunakan banyak air, karena kita menggunakan polybag, bioponik, dan hidroponik, sehingga kebutuhan air tidak terlalu banyak,” jelasnya.
Kendati demikian Yepi mengakui bahwa kekeringan di Tangsel sedikit banyaknya tetap berpengaruh pada pertanian, namun dampaknya tidak signifikan. “Memang kalau dampak kekeringan sih ada saja. Tapi kalau dampak ke pertanian kita tidak berpengaruh luar biasa, karena selama masih ada air di rumah, untuk bisa nyiram, masih bisa. Makanya berbeda dengan pertanian di Pandeglang, Serang dan Lebak yang hamparannya memerlukan air yang cukup banyak,” ujarnya.
Yepi mengatakan, aktivitas pertanian di Tangsel lebih banyak terjadi di wilayah Kecamatan Pamulang, Ciputat, dan Serpong, karena dari jumlah kelompok taninya cukup banyak. Menurutnya, di tiga kecamatan penghasil pertanian tersebut aktivitas pertanian masih berjalan lancar.
“Saya dapat informasinya kelompok tani masih tanam sayuran dan lainnya, masih berlanjut. Kita masih terus membina mereka, setelah panen harus kita dampingi untuk membuka pasarnya setelah panen,” ujarnya.
Reporter: Syaiful Adha
Editor : Aas Arbi











