Lebih lanjut Wawan menuturkan, pada tahun ini kuota dari provinsi sebetulnya sebanyak 55 unit. Namun hasil verifikasi dari 90-an korban bencana yang valid datanya sementara bisa di-ACC yang 42 unit.
“Karena tadi itu banyak sudah ngebangun, makanya kita memang memaklumi terhadap korban bencana sudah membangun dulu sebelum menerima bantuan stimulan. Lalu ada juga satu korban yang status tanah masuk dalam tanah konservasi dan saat meminta ke TNUK enggak boleh enggak bisa,” katanya.
Korban juga mengaku tidak memiliki tanah lain di luar kawasan TNUK. Sehingga korban tersebut tidak masuk dalam daftar penanganan tahun ini.
“Yang melakukan verifikasi temen-temen dari provinsi. Kita menyerahkan sepenuhnya kepada provinsi,” katanya.
Selain masalah status tanah, hal lainnya yaitu akses jalannya. Banyak juga yang siap tetapi akses tidak memenuhi, artinya kalau dibangun di bulan Oktober tidak mungkin selesai sampai akhir tahun.
“Karena satu unit, daerahnya berada di pelosok sehingga memakan waktu lebih panjang untuk ngangkut barang material berupa rumah Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat Tahan Gempa). Itu kan sistem panel, panel – panel untuk ngangkutin sampai titik rumahnya ke lokasi sangat tidak memungkinkan, sehingga ditunda dan kemungkinan di tahun 2024 karena waktunya sudah mepet,” katanya.
Jadi, ditegaskan Wawan, hal – hal teknis memang terjadi di lapangan dan itu penyampaian dari temen – temen provinsi.
“Jadi yang baru bisa dilaksanakan sebanyak 42 unit. Kita mengucapkan terima kasih kepada provinsi sudah membantu melakukan penanganan terhadap korban gempa bumi Pandeglang,” katanya. (*)
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











