LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID-Pembangunan dan perluasan Stasiun Rangkasbitung dimulai sejak tahun 2023 hingga saat ini. Namun, pada proses pembangunannya, akan berdampak pada bangunan cagar budaya peninggalan zaman Hindia Belanda yang di Stasiun Rangkasbitung.
Revitalisasi bentuk stasiun itu sendiri, akan membongkar overkapping atau atap peron dan hanya menyisakan enam tiang penyangga peninggalan kolonial Hindia Belanda yang sudah berumur ratusan tahun.
Pengamat Sejarah sekaligus Kepala UPT Museum Multatuli, Ubaidilah Muchtar, mengatakan berdasarkan kajian yang sudah disepakati bersama, pembongkaran atap akan tetap dilakukan untuk mengikuti perkembangan ramainya penggunaan jasa kereta api di Stasiun Rangkasbitung.
“Saya secara pribadi yang terlibat secara proses diskusi-diskusi bersama dengan balai pelestarian kebudayaan, Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan juga Pemda Lebak, saya kira kita tidak bisa menolaknya pada akhirnya agar perkembangan stasiun Rangkasbitung juga dapat dinikmati banyak orang,” katanya saat berada di kantornya, Rabu 12 Juni 2024.
Menurutnya, proses pembongkaran stasiun ini, akan menyisakan enam kolom dari 22 kolom tiang penyangga atap sebagai bagian dari cagar budaya stasiun.
Lebih lanjut, Ubai menyebutkan pada akhirnya kita bisa menyaksikan saja apa yang dapat ditampilkan nanti di stasiun ultimate Rangkasbitung.
“Enam kolom yang memiliki nilai, yang memiliki ornamen unik di stasiun Rangkasbitung. Enam kolom dari 22 kolom tiang penyangga atap stasiun Rangkasbitung itu nantinya, enam buah kolomnya akan disisakan, sebagai bagian dari cagar budaya stasiun Rangkasbitung itu sendiri,” terang Ubai.
Ia menambahkan, terkait dengan pembongkaran cagar budaya sudah melalui proses diskusi bersama pakar dan tim ahli cagar budaya. Ubai menuturkan proyek pembongkaran tidak akan menghabiskan seluruh bangunan cagar budaya stasiun Rangkasbitung yang ada.
“Kita sudah diskusi dengan pakar, dengan tim ahli cagar budaya di Provinsi Banten, dengan heritage PT KAI bahwa bagaimana pun juga, cagar budaya boleh dimanfaatkan artinya kita tidak menghabiskan stasiun Rangkasbitung,” terangnya.
“Karena bangunan eksisting nya tetap ada, yang sekarang untuk jadi kantor, jadi tenant, mushola kemudian bak air itu tetap terjaga, Jadi yang terdampak hanya overkapping atau atap stasiun Rangkasbitung,” tambahnya. (*)
Reporter: Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











