“Zat-zat ini adalah penyebab utama dari risiko penyakit serius bagi perokok tembakau. Meskipun vape dianggap lebih aman karena tidak mengandung beberapa zat tersebut, risiko kesehatannya tetap ada, terutama bagi mereka yang belum pernah menggunakan nikotin sebelumnya,” katanya.
Namun, Penggunaan rokok elektrik atau vape berbeda dengan rokok tembakau, karena penggunanya menghirup aerosol atau uap, bukan asap. Uap ini dihasilkan dari cairan atau liquid yang mengandung nikotin, asam benzoat, propilen glikol, gliserol, dan zat penambah rasa.
“Jika dibandingkan dengan rokok biasa, rokok tembakau memang mengandung lebih banyak zat berbahaya. Dari sudut pandang ini, penggunaan vape bisa dianggap tidak seberbahaya rokok tembakau,” kata Abi Noya.
Namun, ia menegaskan bahwa hal ini bukan berarti vape sepenuhnya aman. Kandungan propilen glikol pada vape bisa menyebabkan iritasi pada mulut dan tenggorokan. Selain itu, kandungan nikotin dalam vape tetap membuat penggunanya berisiko kecanduan.
“Jika digunakan secara berlebihan, vape tetap dapat memicu gangguan kesehatan,” tambahnya.
Abi menjelaskan bahwa efek jangka panjang dari penggunaan vape, termasuk paparan zat penambah rasa yang terhirup ke dalam saluran pernapasan, masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
“Masih banyak yang belum diketahui tentang dampak jangka panjang vape pada kesehatan,” katanya.
Ia mengatakan bahwa ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa baik asap rokok tembakau maupun uap vape dapat memberikan paparan nikotin kepada orang-orang di sekitarnya. Meskipun kadar nikotin dalam uap vape 10 kali lebih rendah dibandingkan asap rokok tembakau, rokok tembakau juga mengandung banyak zat berbahaya lainnya yang dihasilkan dari proses pembakaran.
“Meskipun uap vape mengandung nikotin yang lebih rendah, sebaiknya tetap hindari ngevape di sekitar orang lain, terutama mereka yang rentan terhadap paparan nikotin seperti ibu hamil, anak-anak, dan orang dengan kondisi kesehatan serius seperti penyakit jantung dan paru-paru,” paparnya.
Menurut Abi Noya bahwa dampak buruk penggunaan vape, berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa vape dapat menyebabkan disfungsi pada lapisan dinding pembuluh darah dan memicu stres oksidatif. Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas berlebih di dalam tubuh, yang dapat meningkatkan risiko gangguan jantung.
Namun, ia menambahkan bahwa jika dibandingkan dengan rokok tembakau, dampak vape terhadap jantung dan sistem peredaran darah tersebut berada pada tingkat yang lebih rendah.











