SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Hingga Oktober 2024, ada 3.778 orang di Kabupaten Serang terjangkit tipes atau demam tifoid.
Penyakit yang menyerang sistem pencernaan tersebut harus diwaspadai ketika memasuki musim pancaroba.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti, mengatakan, ada banyak penyakit yang harus diwaspadai oleh masyarakat saat memasuki musim pancaroba. Salah satunya ialah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman dalam hal ini penyakit tipes.
“Kenapa harus diwaspadai pada saat musim pancaroba ini karena kuman mudah berkembang. Tentu lihat sumber air kita apakah bener-bener sudah memenuhi standar kesehatan atau tidak. Kalau tercemar itu kemungkinan tertular tipes akan lebih tinggi,” katanya, Jumat,.15 November 2024.
Ia mengatakan, berdasarkan data hasil Surveilans Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada minggu ke-43 yang dilakukan oleh Puskesmas dan klinik, dalam waktu satu minggu tercatat ada 122 kasus.
Ia mengatakan, hingga Oktober 2024, terjadi ribuan kasus tipes yang sudah dilaporkan.
“Jadi selama Januari hingga 26 Oktober, tercatat 3.778 kasus tipes. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi,” katanya.
Ia mengungkapkan, bakteri Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi biasanya masuk melalui mulut dari makanan ataupun minuman yang sudah tercemar.
“Kuman tipes itu berkembang butuh media, dia ada di makanan yang tidak bersih, kita tidak cuci dengan baik, ataupun dari makanan atau air yang tidak di masak dengan baik,” ujarnya.
Ia mengatakan, kuman penyebab penyakit tipes itu bisa berasal dari mana saja bisa dari udara, tinja dari tempat yang kotor yang dapat membuat kuman tersebut berkembang biak.
“Intinya kalau demam tifoid itu terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta daya tahan tubuh,” tegasnya.
Ia mengatakan, mayoritas mereka yang terkena tipes berada di usia-usia produktif atau dewasa.
“Mungkin karena sering jajan di tempat yang kurang higienis, pola makan, bisa juga karena kelelahan,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











