SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang mengajak milenial untuk tak ragu menjadi petani. Apalagi, pemerintah pusat saat ini memiliki program insentif untuk petani milenial.
Sekretaris DKPP Kabupaten Serang, Yuli Saputra mengatakan, program petani milenial yang digulirkan oleh pemerintah pusat harus dimanfaatkan dengan baik.
“Yang digaungkan oleh Menteri Pertanian terkait petani milenial itu kan sekarang mereka bisa akses online lewat website Kementerian Pertanian langsung. Makanya harus dimanfaatkan dengan baik,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu 24 November 2024.
Sebelum adanya program dari pemerintah pusat, pihaknya telah lebih dahulu melakukan pembinaan kepada pemuda di Kabupaten Serang yang ingin terjun di dunia pertanian. Saat ini bahkan ada sekitar 30 orang pemuda yang terjun pada usaha pertanian ataupun peternakan.
“Kalau di kita tidak ada insentif yang diberikan seperti yang disampaikan oleh pak Menteri, belum ada. Karena pada saat kita menggaungkan petani milenial itu, kita hanya melihat dari sisi kinerja petani milenial dan kita support dari program yang ada,” ujarnya.
Program tersebut dilaksanakan lantaran pihaknya memiliki kekhawatiran mengenai regenerasi petani di Kabupaten Serang. Karena mayoritas petani di Kabupaten Serang rata-rata berusia di atas 40 tahun.
“Kalau jumlah keseluruhan kelompok tani 2.130 kelompok tani. Per kelompok minimal 25 orang, tergantung luas lahan dan posisi kelompoknya dimana. Namun rata-rata petani berusia di atas 40 tahun,” tegasnya.
Ia mengaku bersyukur, karena di tahun 2024 ini, muncul wacana pemerintah pusat yang ingin melaksanakan program petani milenial. Bahkan para petani milenial akan diberikan insentif sebesar Rp10 juta. Ia mengaku program ini sejalan dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh DKPP Kabupaten Serang.
“Kita tunggu respon dari teman-teman petani milenial, kalau banyak yang daftar kita follow up ke kementerian, sehingga programnya bisa diturunkan di tingkat provinsi dan kabupaten, jadi jangkauannya tidak terlalu jauh, terkait pembinaannya program kerjanya, direkrut untuk apa. Hendaknya wilayah punya kewenangan juga untuk mengakses itu,” ujarnya.
Ia mengaku, petani milenial di Kabupaten Serang umumnya memiliki karakteristik tersendiri. Mereka biasanya cenderung bergerak secara sendiri-sendiri dan tidak berkelompok. Selain itu, mereka juga memanfaatkan berbagai teknologi.
“Rata-rata petani milenial melihat prospek, mereka mau turun itu. Contoh di Cikeusal, pak Enjat, dia mau turun karena dia menguasai pasar, komoditi dia sayur-sayuran, dia masuk ke pasar induk, setiap hari support. Petani milenial rata-rata lebih menguasai pasar dahulu, baru setelah itu dia terjun,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











